Sementara itu, kelompok kedua dikategorikan sebagai hiperkonektivitas. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan konektivitas di seluruh wilayah organ otak.

>>> MPMRent Tambah 50 Unit Wuling New BinguoEV Lite untuk Armada Korporasi

Pola hiperkonektivitas didorong oleh gen yang berhubungan erat dengan sistem imunitas tubuh. Kelompok ini juga menunjukkan tingkat keparahan autisme yang sedikit lebih tinggi.

"Model tikus memberi kami 'Batu Rosetta' secara biologis," ujar ahli neurosains dari Child Mind Institute di Amerika Serikat, Adriana Di Martino.

"Kami dapat melihat jalur biologis mana yang mendorong tanda konektivitas tertentu, lalu mencari pola yang sama pada manusia."

Pengembangan Terapi Spesifik

Validasi temuan pada manusia dan hewan menjadi bukti ilmiah yang kuat mengenai eksistensi kedua subtipe ini.

Meski demikian, sekitar satu dari empat otak manusia yang diperiksa belum masuk dalam kedua kategori tersebut.

Diferensiasi berbasis pencitraan otak ini berbeda dengan studi tahun 2025 yang membagi autisme menjadi empat jenis berdasarkan 230 ciri perilaku.

Pendekatan baru ini lebih memfokuskan diri pada aspek biologis.

Saran dari para peneliti menekankan pentingnya penggunaan kumpulan data yang lebih besar pada masa mendatang. Akses data dan alat analisis kini telah dibuka untuk mempercepat riset lanjutan.

"Pendekatan lintas spesies kami menyediakan kerangka translasional yang lebih maju untuk stratifikasi autisme yang multidimensi dan berbasis biologi," tulis para peneliti dalam makalah yang telah diterbitkan di Nature Neuroscience.

>>> OJK Batasi Kepemilikan Asing PVML Maksimal 85 Persen

"Basis data kami tersedia secara terbuka bagi komunitas penelitian, untuk mendukung investigasi di masa depan mengenai perubahan konektivitas yang berkaitan dengan autisme."