>>> PLN UID Jatim Kurangi Pasokan Listrik Akibat Penurunan Suplai Batu Bara

Sebaliknya, lingkungan keluarga yang sama, termasuk pola pengasuhan umum, kondisi ekonomi rumah tangga, maupun kehangatan orang tua, hampir tidak memberikan pengaruh terhadap terbentuknya sifat narsistik.

"Kami tidak menemukan bukti bahwa orang tua menurunkan narsisme kepada anak melalui perilaku atau metode pengasuhan mereka," tulis para peneliti dalam studi tersebut.

Meski orang tua dan anak memang menunjukkan tingkat narsisme yang mirip, kemiripan itu sepenuhnya dijelaskan oleh faktor biologis yang mereka warisi bersama.

Temuan lain yang menarik adalah adanya fenomena assortative mating, yakni kecenderungan seseorang memilih pasangan dengan karakteristik yang mirip dengan dirinya.

Dalam penelitian ini, pasangan suami istri cenderung memiliki tingkat narsisme yang serupa.

Hasil tersebut bertolak belakang dengan anggapan populer bahwa individu narsistik biasanya memilih pasangan yang pasif atau memiliki karakter berlawanan.

Peneliti juga menemukan pengaruh genetika dan pengalaman hidup individual terhadap narsisme relatif stabil pada berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga dewasa muda.

Artinya, kontribusi faktor biologis terhadap sifat ini tidak banyak berubah seiring bertambahnya usia.

Meski demikian, para peneliti menegaskan faktor genetik bukanlah satu-satunya penentu. Setengah dari variasi narsisme masih berasal dari pengalaman hidup yang unik pada setiap individu.

Dengan demikian, penelitian selanjutnya perlu menelusuri lebih jauh bagaimana lingkungan pertemanan, hubungan romantis, pengalaman kerja, hingga berbagai bentuk penghargaan sosial dapat memperkuat kecenderungan narsistik seseorang.

>>> OJK Tetapkan Tujuh Direksi Baru BEI Periode 2026-2030

Selain itu, ilmuwan juga ingin memahami mekanisme biologis yang terlibat, termasuk kemungkinan peran hormon seperti testosteron maupun sistem saraf yang mengatur respons terhadap penghargaan dan ancaman sosial.