Banyak masyarakat yang masih percaya bahwa obesitas adalah kondisi turunan yang tidak bisa dihindari. Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp. GK menjelaskan bahwa faktor genetik memang berperan, tetapi kontribusinya sangat kecil.

in1

>>> Kemenag Rilis Jadwal Salat Kota Bandung Jumat 19 Juni 2026

"Genetik itu bisa berpengaruh, tapi tidak sampai 20 persen," ujarnya.

Faktor lingkungan dan gaya hidup justru memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap risiko obesitas. Pola makan, aktivitas fisik, dan kebiasaan sehari-hari menjadi kunci utama yang bisa dimodifikasi.

Obesitas Bukan Sekadar Berat Badan Berlebih

Dr. Maryam menegaskan bahwa obesitas bukanlah kelebihan berat badan, melainkan kelebihan lemak tubuh. Ia mencontohkan fenomena skinny fat, di mana seseorang tampak kurus tetapi memiliki persentase lemak tinggi.

>>> Timnas AS Siap Hadapi Australia di Laga Kedua Grup D Piala Dunia 2026

Oleh karena itu, program penurunan berat badan harus disesuaikan secara personal melalui pengukuran objektif. Hal ini penting agar tidak terjadi penyusutan massa otot yang tidak diinginkan.

Obesitas tidak hanya meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan kolesterol. Kondisi ini juga berdampak buruk pada kesehatan reproduksi dan kesuburan.

Selain fisik, obesitas berkaitan erat dengan masalah psikologis seperti depresi, gangguan citra tubuh, dan rendahnya rasa percaya diri.

>>> Andrew Robertson Waspadai Pergerakan Achraf Hakimi di Piala Dunia 2026

Efek negatifnya meluas hingga penurunan produktivitas dan kualitas hidup.