Profil Rahadian M Saputra Pria Berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran yang Kini Sampaikan Permohonan Maaf: Umur, Agama dan IG. Rahadian M Saputra akhirnya menyampaikan permintaan maaf setelah tindakannya mengenakan kebaya perempuan saat mengikuti Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, memicu polemik di tengah masyarakat. Permintaan maaf itu disampaikan melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya.

Dalam pernyataannya, Rahadian mengakui kesalahan yang telah dilakukan dan menyebut seluruh keputusan untuk mengenakan busana perempuan dalam prosesi tersebut merupakan inisiatifnya sendiri.

in1

"Saya Rahadian M Saputra. Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita pada acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu," ujarnya.

Ia menegaskan tidak ada pihak lain yang terlibat dalam keputusan tersebut. Menurut Rahadian, tanggung jawab atas tindakannya sepenuhnya berada pada dirinya.

>>> Rahadian M Saputra Pria Berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran Sampaikan Permintaan Maaf

"Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak saya sendiri. Oleh karena itu, tanggung jawab atas tindakan tersebut sepenuhnya berada pada saya," katanya.

Kontroversi bermula setelah Rahadian hadir dalam Kirab Malam 1 Suro dengan mengenakan kebaya hitam dan sanggul yang lazim digunakan peserta perempuan. Penampilannya menjadi sorotan di media sosial dan memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat, budayawan, hingga pemerhati budaya Jawa.

>>> Klaim Reward Eksklusif Lewat Kode Redeem Anime Apocalypse Mei 2026

Sejumlah pihak menilai busana yang dikenakannya tidak sesuai dengan ketentuan tata busana yang berlaku dalam tradisi Mangkunegaran. Kritik yang muncul kemudian berkembang menjadi perdebatan luas mengenai penghormatan terhadap adat dan pelaksanaan tradisi budaya.

Rahadian mengaku baru memahami bahwa tindakannya menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai yang dijunjung dalam prosesi tersebut. Karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga besar Mangkunegaran dan masyarakat yang merasa tersinggung.