Pasar minyak mentah Timur Tengah diperkirakan akan menghadapi tekanan lebih besar setelah Selat Hormuz dibuka kembali pada Jumat (19/6/2026).

Langkah ini menyusul kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi melepaskan puluhan juta barel minyak ke pasar global.

in1

>>> Arab Saudi Tetapkan 1 Muharram 1448 Hijriah Jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026

Analis Kpler, Muyu Xu, menilai pembukaan kembali jalur pelayaran strategis ini akan membebaskan sekitar 93 juta barel minyak non-Iran yang tertahan di Teluk Persia.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz dapat melepaskan sekitar 93 juta barel minyak non-Iran yang tertahan di Teluk Persia, sementara para produsen diperkirakan tetap akan memasok kargo melalui jalur-jalur yang kurang terlihat," kata Muyu Xu.

Selain itu, pelonggaran pembatasan dari AS juga berpotensi membebaskan sekitar 72 juta barel minyak Iran yang tersimpan di kapal tanker di sebelah barat Pelabuhan Chabahar.

Namun, peningkatan pembelian dalam skala besar oleh negara konsumen seperti China dinilai masih menghadapi hambatan regulasi domestik.

"Peningkatan pembelian minyak mentah dalam skala besar tampaknya tidak akan terjadi kecuali Beijing melonggarkan pembatasan ekspor produk olahan dan/atau melanjutkan pengisian kembali cadangan strategis minyak nasional," ujar Muyu Xu.

Di sisi lain, pergerakan pasokan ini memicu penyesuaian strategi dari sejumlah kilang minyak di Asia.

>>> Jakarta Bhayangkara Presisi Tembus Grand Final AVC 2026

Beberapa pelaku perdagangan memperkirakan sekitar 50 juta barel minyak akan segera masuk ke pasar.

"Peningkatan pasokan minyak mentah Timur Tengah akan memperdalam kondisi contango pada acuan harga minyak regional," kata seorang pedagang minyak di Asia.

Penurunan harga minyak mentah juga mengubah fokus persaingan di antara pengelola kilang minyak di Asia, khususnya di Korea Selatan.

"Para kilang memperkirakan tingkat profitabilitas akan cukup buruk pada paruh kedua tahun ini," kata seorang pejabat industri asal Korea Selatan.

Kondisi pasar saat ini memaksa pelaku usaha untuk lebih selektif dalam memperhitungkan margin keuntungan yang semakin menipis akibat melimpahnya stok.

>>> Muhammadiyah: Salat Sambil Baca Mushaf Al-Qur'an Boleh Asal Khusyuk

"Jadi, persoalannya bukan lagi sekadar mengamankan jenis minyak tertentu, melainkan telah berubah menjadi persaingan dari sisi keekonomian," tambah pejabat tersebut.