Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai peningkatan produksi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) dapat mendongkrak penyerapan mineral kritis di Indonesia.

Hal ini disampaikan Direktur Green Transition Initiative INDEF Imaduddin Abdullah dalam diskusi publik pada Rabu (17/6/2026).

in1

>>> Kemenkes Rekomendasikan 5 Bahan Tradisional untuk Redakan Batuk

Menurut Imaduddin, mineral kritis banyak digunakan untuk sel baterai listrik, frame aluminium, foil baterai, konduktor, dan panel surya.

Komponen tersebut menjadi bagian integral dari BESS dan PLTS yang relevan dengan basis mineral domestik seperti silika, bauksit, tembaga, perak, dan timah.

Pemanfaatan ini sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto membangun 100 gigawatt (GW) PLTS.

Namun, teknologi tersebut belum terhubung kuat dengan industri manufaktur domestik.

Imaduddin menuturkan, segmen strategis bernilai tambah tinggi belum tersedia di dalam negeri.

Aktivitas industri hilir Indonesia saat ini masih terbatas pada perakitan panel surya.

Padahal, lompatan nilai tambah terbesar berada di rantai pasok yang lebih dalam, seperti produksi solar wafer yang mencapai 68 kali lipat dan sel surya sebesar 22,4 kali lipat.

Akibat absennya ekosistem ini, nilai tambah PLTS di Indonesia masih bergantung pada rantai pasok luar negeri.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki modal awal di sektor midstream melalui kemampuan memproduksi beberapa komponen dengan bahan baku domestik.

Imaduddin mencontohkan, Indonesia sudah mampu memproduksi frame aluminium dan tempered glass.

>>> The Fed Tahan Suku Bunga Acuan untuk Redam Inflasi

Ini menjadi pintu masuk untuk memberikan dampak signifikan pada industrialisasi mineral kritis.

Tantangan utama saat ini adalah membangun rantai pasok terintegrasi untuk mengatasi kesenjangan kapabilitas teknologi tinggi, seperti baterai canggih, semikonduktor, dan solar photovoltaic.