Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% demi meredam tekanan inflasi yang diproyeksikan bertahan hingga akhir tahun 2026.

Kebijakan ini diambil seiring ekspektasi pasar bahwa sembilan pejabat bank sentral memperkirakan minimal satu kali kenaikan suku bunga lagi.

in1

>>> PT Colorpak Indonesia Tbk CLPI Bagikan Dividen Tunai Rp52 Miliar

Harga emas saat ini berada di level 4.268 per troy ons dan perak di level 68,30 per troy ons, setelah masing-masing mengalami koreksi sebesar 4,92% dan 7,37% dalam sebulan terakhir.

Dampak pada Logam Mulia

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menilai langkah The Fed menahan suku bunga memberikan sentimen positif bagi logam mulia, meskipun pernyataan yang dikeluarkan cenderung bernada hawkish.

"Namun karena proses negosiasi masih berlangsung dan belum final, emas dan perak masih memiliki peluang untuk kembali menguat jika ketidakpastian meningkat," ujar Brahmantya.

Sikap hawkish dari otoritas moneter tersebut memicu penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi AS yang membatasi ruang penguatan emas.

Rencana pembukaan Selat Hormuz serta kesepakatan damai antara AS dan Iran sempat meredam minat pasar terhadap aset aman.

"Justru kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap," ucap Brahmantya.

Ia memprediksi kuartal III-2026 akan menjadi momentum menarik bagi investor jangka menengah dan panjang untuk mulai mengumpulkan portofolio logam mulia.

>>> Minimarket Robot Humanoid Mulai Beroperasi di Hong Kong

"Emas lebih cocok sebagai instrumen lindung nilai dan menjaga daya beli, sedangkan perak menawarkan potensi kenaikan yang lebih agresif namun dengan volatilitas yang lebih tinggi," terang Brahmantya.