Lonjakan harga beras global mulai menjadi perhatian Indonesia.

Data FAO menunjukkan Indeks Harga Beras FAO mencapai 104,8 poin pada Mei 2026, naik 2,7% dibanding April.

in1

>>> Aksi Bersih Stadion Suporter Jepang Picu Parodi Gender Viral

Kenaikan terjadi di semua segmen utama perdagangan beras global, termasuk beras ketan, Indica, Japonica, dan beras wangi. Pemicunya adalah peningkatan biaya produksi di negara eksportir utama.

Kekhawatiran pasar terhadap risiko cuaca yang dapat mengganggu produksi musim tanam mendatang turut memperkuat kenaikan. Vietnam mencatat lonjakan harga tertinggi dalam 16 bulan terakhir.

Di Thailand, harga beras menguat karena kekhawatiran El Nino. Sementara itu, harga beras di India dan Pakistan cenderung stabil akibat aktivitas perdagangan yang terbatas.

Dampak Terbatas ke Domestik

Kepala Pusat Makroekonomi dan Finance INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai kenaikan harga beras dunia belum berdampak besar pada harga nasional.

Hal ini karena Indonesia lebih mengandalkan produksi domestik dibanding impor.

"Risiko rambatan ke Indonesia relatif terbatas, meskipun tetap perlu diwaspadai.

Transmisi harga global ke pasar domestik tidak akan sebesar negara pengimpor bersih," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (17/6/2026).

Ketahanan Indonesia ditopang oleh cadangan beras pemerintah yang mencapai sekitar 5,3 juta ton, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Stok ini memberikan ruang intervensi pasar jika terjadi gejolak harga.

Namun, Rizal mengingatkan bahwa stok tersebut hanya berfungsi sebagai bantalan sementara. Ketahanan pangan jangka panjang tetap bergantung pada kemampuan menjaga produktivitas pertanian secara berkelanjutan.

Inflasi Beras Terkendali

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan inflasi beras berhasil dikendalikan.

Data BPS menunjukkan inflasi beras Mei 2026 hanya 0,38%, jauh lebih rendah dibanding Mei 2024 yang mencapai 3,59%.