Harga beras pada semester II/2026 diperkirakan masih bertahan di level tinggi. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga gabah domestik dan penurunan produksi setelah masa panen raya.

Peneliti Indef, Afaqa Hudaya, menyatakan bahwa fluktuasi harga beras saat ini lebih banyak ditentukan oleh dinamika dalam negeri.

in1

>>> Sektor Semikonduktor Melonjak, Sentimen AS-Iran Dorong Wall Street Menguat

Dampak dari pasar global dinilai masih sangat terbatas.

Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah wilayah sentra produksi telah melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Kenaikan ini mencerminkan kuatnya permintaan dari sektor penggilingan dan program penyerapan stok untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

“Faktor domestik tampaknya memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kenaikan harga beras dibandingkan faktor global, meskipun keduanya tetap berperan,” ujar Afaqa Hudaya kepada Bisnis, Kamis (18/6/2026).

Lonjakan harga gabah berimplikasi langsung pada pembengkakan ongkos produksi di tingkat penggilingan. Selain bahan baku mahal, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan biaya pengemasan, transportasi, dan distribusi.

Usaha penggilingan skala kecil dan menengah semakin tertekan karena ruang penyesuaian harga terbentur aturan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Menurut Afaqa, naik turunnya harga beras di konsumen ditentukan oleh biaya distribusi, harga gabah, dan penyerapan pemerintah.

Tekanan pasokan mulai muncul seiring melandainya kurva produksi beras nasional setelah panen raya.

>>> CIO Danantara: Perdamaian AS-Iran Berdampak Positif bagi Ekonomi RI

Berdasarkan proyeksi BPS, volume produksi beras pada April–Juni 2026 diperkirakan menyusut sekitar 8,3% dibandingkan periode sama tahun lalu akibat menyempitnya luas panen.

Meski demikian, risiko kelangkaan stok dinilai aman karena cadangan beras pemerintah yang besar dapat menjadi bantalan stabilitas pasar jangka pendek.