Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Federal Funds Rate (FFR) masih berpotensi meningkat ke depan.

Hal ini disebabkan tekanan inflasi di AS yang belum mereda, seperti disampaikan Perry dalam keterangan yang dikutip pada Kamis (18/6/2026).

in1

>>> Timnas Inggris Tekuk Kroasia 4-2, Jude Bellingham Jadi Bintang

"Ke depan Fed Fund Rate akan naik akibat inflasi di AS," kata Perry Warjiyo.

Situasi tersebut membuat investor global tetap memprioritaskan aset negara maju, terutama AS, sehingga menghambat penguatan aliran modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Tingginya imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury) mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut.

Per 7 Juni, yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai 4,49% dan tenor dua tahun berada di angka 4,18%.

>>> InJourney Airports Kembangkan Fasilitas Empat Bandara di Indonesia

Pembengkakan defisit fiskal AS dan arah kebijakan moneter The Fed menjadi kombinasi yang menjaga daya tarik instrumen keuangan AS bagi pemodal internasional.

"Kondisi ini membuat investor global belum kuat masuk ke emerging market dan memilih negara maju, terutama AS," ujar Perry.

Selain kebijakan The Fed, ketidakpastian sentimen pasar keuangan global juga dipengaruhi dinamika hubungan geopolitik antara Iran dan AS yang terus diwaspadai BI.

Kendati menghadapi tekanan eksternal, ketahanan ekonomi domestik Indonesia dilaporkan tetap terjaga.

>>> BI Naikkan Suku Bunga Acuan Menjadi 5,75 Persen

Hal ini ditopang permintaan dalam negeri, terutama didorong percepatan realisasi belanja negara berupa pembayaran gaji ke-13 dan penyaluran bantuan sosial.