Kesepakatan Damai AS-Iran Dorong Penguatan Saham Asia
Pasar saham di Asia diperkirakan bergerak menguat pada Jumat setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
Kesepakatan ini bertujuan meredakan tekanan inflasi global yang sempat mengkhawatirkan pelaku pasar.
>>> MSCI Soroti Hambatan Struktural Pasar Saham Indonesia
Indikasi kenaikan terlihat pada kontrak berjangka indeks saham untuk Jepang dan Korea Selatan menjelang pembukaan perdagangan.
Sementara itu, bursa Australia justru melemah tipis.
Kondisi ini mengikuti lonjakan indeks S&P 500 sebesar 1,1 persen dan Nasdaq 100 yang menguat 2,5 persen pada Kamis malam.
Kenaikan tersebut dipicu oleh rekor tertinggi saham semikonduktor.
Sentimen positif juga didorong oleh stabilnya harga minyak mentah West Texas Intermediate setelah penandatanganan perjanjian sementara yang mengakhiri konflik.
Pemulihan pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz turut mengurangi kekhawatiran terhadap guncangan pasokan energi global.
Fokus pada Dialog Nuklir dan Stabilitas Gencatan Senjata
Fokus investor global kini tertuju pada kelanjutan dialog mengenai program nuklir Teheran serta stabilitas gencatan senjata.
Hal ini diharapkan mampu menjaga penurunan harga komoditas energi.
>>> Pemerintah Naikkan Kuota Magang Nasional Jadi 150 Ribu Peserta per Juli 2026
"Kemajuan menuju pemulihan pasokan minyak dari Teluk Persia telah mendukung harga saham," kata Ian Lyngen, perwakilan BMO Capital Markets.
Ia menambahkan bahwa stabilitas harga energi membantu mengurangi kecemasan pasar terhadap risiko inflasi masa depan.
"Biaya energi yang lebih rendah juga telah meredakan kekhawatiran inflasi ke depan dan menyebabkan penurunan yang berarti pada imbal hasil obligasi Treasury berjangka panjang," ujar Lyngen.
Di sisi lain, pergerakan instrumen obligasi pemerintah AS terpantau stabil setelah Ketua Federal Reserve yang baru memberikan sinyal kuat terhadap kebijakan penanganan inflasi.
Situasi ini memicu proyeksi dari sejumlah analis mengenai arah kebijakan suku bunga acuan ke depan.
"Pandangan saya tetap bahwa inflasi akan melambat secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang, dan hal ini mungkin memungkinkan The Fed mempertahankan pengaturan kebijakan saat ini daripada melakukan pengetatan tambahan," ujar Fawad Razaqzada, analis Forex.
com.
>>> Harga Emas Dunia Melemah Akibat Kebijakan Suku Bunga Global
Sementara itu, Bank of England memilih untuk menolak kenaikan suku bunga lanjutan dan mempertahankan tingkat bunga pada posisi 3,75 persen akibat dampak positif dari penurunan harga minyak dunia.
Update Terbaru
Ford Hadirkan Paket Proud to Honor untuk Super Duty, Truk Bertema Bendera Amerika
Jumat / 19-06-2026, 07:58 WIB
Biaya Tol dan Konsumsi Daya Geely EX2 Rute Jakarta-Yogyakarta
Jumat / 19-06-2026, 07:58 WIB
Korea Selatan Hadapi Meksiko di Laga Kedua Grup A Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 07:57 WIB
Kemenag Pamekasan Dampingi Pengurusan Santunan Asuransi Jemaah Haji Wafat
Jumat / 19-06-2026, 07:57 WIB
Thierry Henry Kritik Egoisme Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 07:57 WIB
Sinopsis Pearl In Red: Balas Dendam Dua Wanita dengan Identitas Palsu
Jumat / 19-06-2026, 07:57 WIB
Memahami Tujuan Finansial dan Cara Menyusun Skala Prioritas Pengeluaran
Jumat / 19-06-2026, 07:56 WIB
AS Cabut Blokade Pelabuhan dan Wilayah Pesisir Iran
Jumat / 19-06-2026, 07:56 WIB
Kanada Hajar Qatar 6-0 di Piala Dunia 2026, Kemenangan Bersejarah
Jumat / 19-06-2026, 07:56 WIB
Ilmuwan China Temukan Spesies Baru Dinosaurus Berbulu
Jumat / 19-06-2026, 07:56 WIB
AS Cabut Blokade Pelabuhan dan Pesisir Iran Setelah Kesepakatan Damai
Jumat / 19-06-2026, 07:56 WIB
10 Model AI dengan Skor IQ Tertinggi pada 2026 Versi Mensa Norway
Jumat / 19-06-2026, 07:52 WIB
BYD Motor Indonesia Klarifikasi Penumpukan Kontainer di Tanjung Priok
Jumat / 19-06-2026, 07:52 WIB
Mandra Pantau Kondisi Kesehatan Bolot Lewat Komunikasi dengan Anak
Jumat / 19-06-2026, 07:51 WIB






