Saham Asia Diprediksi Menguat Usai Kesepakatan Damai AS-Iran

Saham-saham di Asia diperkirakan menguat pada Jumat, 19 Juni 2026, setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai.
Kesepakatan itu memicu optimisme pemulihan arus pasokan minyak melalui Selat Hormuz, yang sempat diblokade.
>>> OJK Tunjuk Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama BEI 2026-2030
Kontrak berjangka indeks saham untuk Jepang dan Korea Selatan menunjukkan indikasi kenaikan saat pembukaan pasar.
Sementara itu, kontrak untuk Australia terpantau sedikit melemah.
Di bursa AS, kontrak berjangka saham juga naik tipis setelah indeks S&P 500 melonjak 1,1 persen dan Nasdaq 100 menguat 2,5 persen pada Kamis.
Indeks saham semikonduktor mencetak rekor tertinggi, dipimpin oleh Intel Corp.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) stabil pada awal perdagangan Jumat setelah Presiden Donald Trump menandatangani perjanjian sementara untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
Kapal tanker dapat kembali melintasi Selat Hormuz, mengurangi kecemasan pasar terhadap risiko guncangan pasokan energi global.
Kini fokus pelaku pasar beralih pada kelanjutan pembahasan program nuklir Teheran, ketahanan gencatan senjata, serta penurunan harga minyak dan tekanan inflasi.
"Kemajuan menuju pemulihan pasokan minyak dari Teluk Persia telah mendukung harga saham," kata Ian Lyngen dari BMO Capital Markets.
>>> Inggris Tekuk Kroasia, Kolombia Bungkam Uzbekistan di Piala Dunia 2026
Ia menambahkan bahwa penurunan biaya energi juga meredakan kekhawatiran inflasi dan menyebabkan penurunan imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang.
Wakil Presiden AS JD Vance meremehkan kekhawatiran mengenai potensi tarif oleh Iran terhadap kapal yang melintas.
Trump menegaskan melalui Truth Social bahwa minyak sudah mulai mengalir kembali.
Obligasi pemerintah AS pulih dari aksi jual massal setelah Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, menunjukkan posisi kredibel dalam memerangi inflasi.
Jika penurunan biaya energi berlanjut dan tercermin dalam data inflasi, analis menilai bank sentral dapat mempertahankan suku bunga acuan saat ini.
"Pandangan saya tetap bahwa inflasi akan melambat secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang, memungkinkan The Fed mempertahankan pengaturan kebijakan saat ini," kata Fawad Razaqzada dari Forex.
com.
>>> MSCI Turunkan Penilaian Transparansi Informasi Pasar Modal Indonesia
Bank of England memilih mempertahankan suku bunga pada level 3,75 persen, dengan menyebut penurunan harga minyak mentah sebagai perkembangan menggembirakan.
Update Terbaru
Thierry Henry Kritik Ambisi Individu Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 08:30 WIB
Umat Islam Dianjurkan Perbanyak Puasa dan Sedekah di Bulan Muharram
Jumat / 19-06-2026, 08:30 WIB
4 Hari Besar Nasional dan Global yang Diperingati Setiap 16 April
Jumat / 19-06-2026, 08:30 WIB
Saham Danantara Topang IHSG di Tengah Volatilitas Pasar
Jumat / 19-06-2026, 08:29 WIB
BPJS Kesehatan Pastikan Iuran Peserta JKN Belum Mengalami Kenaikan
Jumat / 19-06-2026, 08:29 WIB
Korea Selatan Tantang Meksiko di Grup A Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 08:29 WIB
Krisis Resin PPE di Jubail Picu Kenaikan Harga Papan Sirkuit Global 40 Persen
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
KPK: Pemanggilan Pansus Haji DPR Tergantung Kebutuhan Penyidikan
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
Menjaga Kepercayaan dari Ruang Potong: Modernisasi RPH Surabaya
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
Omoway Sempurnakan Motor Listrik OMO X Sebelum Rilis di Indonesia
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
Real Madrid Resmi Rekrut Marc Cucurella dari Chelsea dengan Kontrak Enam Musim
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
Swiss Hajar Bosnia 4-1 di Piala Dunia 2026, Berkat Pemain Pengganti
Jumat / 19-06-2026, 08:28 WIB
BI Perketat Aturan Pembelian Valas Tunai, Batas Turun Jadi US$ 10.000
Jumat / 19-06-2026, 08:26 WIB
Kesadaran Investasi Jangka Panjang Meningkat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Jumat / 19-06-2026, 08:26 WIB






