MSCI Inc. menurunkan penilaian aspek Information Flow untuk pasar modal Indonesia dari posisi plus menjadi minus.

Hal itu tertuang dalam laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis pada Kamis (18/6/2026).

in1

>>> Fortegra Tunjuk Anthony Katz sebagai Wakil Presiden Senior Bidang Pencadangan

Penurunan peringkat ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap ketidakjelasan struktur kepemilikan saham. Selain itu, terdapat indikasi praktik perdagangan terkoordinasi yang dinilai mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.

Meskipun aspek transparansi mengalami penurunan, status Indonesia sebagai Emerging Market dipastikan tidak berubah. MSCI juga tidak memberikan pembaruan terkait status freeze Indonesia.

Tiga Isu Utama yang Disorot

Tim analis MNC Sekuritas menyebutkan tiga isu utama yang menjadi sorotan. Pertama, terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham untuk mengidentifikasi free float.

Kedua, kekhawatiran terhadap perdagangan terkoordinasi. Ketiga, keterbatasan informasi emiten dalam bahasa Inggris.

>>> Good Duck Hadirkan Sesi Refleksi Personal dengan Metode LEGO

Tim analis BRIDS menambahkan bahwa kondisi ini membatasi kemampuan investor global dalam menilai free float yang sebenarnya. Hal ini juga menghambat penyusunan portofolio berdasarkan harga pasar.

Selain masalah transparansi, beberapa hambatan operasional lain juga dicatat.

Di antaranya pembatasan pasar valuta asing offshore, larangan fasilitas overdraft bagi investor asing dalam kliring, keterbatasan transfer aset in-kind, serta pembatasan pada aktivitas stock lending dan short selling.

Penilaian aksesibilitas oleh MSCI menggunakan lima kriteria utama. Yakni keterbukaan kepemilikan asing, arus modal, efisiensi operasional, ketersediaan instrumen investasi, dan stabilitas kerangka institusional.

>>> Kanada Hancurkan Qatar 5-0 di Piala Dunia 2026

Kejelasan lebih lanjut mengenai klasifikasi ini dijadwalkan akan diperoleh pada MSCI Annual Market Classification Review tanggal 24 Juni 2026.