Di tengah rutinitas yang padat, meluangkan waktu untuk mendengarkan diri sendiri sering menjadi tantangan. Platform Good Duck hadir menawarkan ruang refleksi dengan pengalaman yang berbeda.

Good Duck tidak memberikan nasihat atau solusi instan.

in1

>>> Kanada Hancurkan Qatar 5-0 di Piala Dunia 2026

Sebaliknya, platform ini mengajak setiap individu menemukan jawaban mereka sendiri melalui rangkaian pertanyaan mendalam yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan.

Founder Good Duck, Dyah Oetari, menjelaskan bahwa gagasan mendirikan platform ini berawal dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki cara berpikir yang unik.

Namun, derasnya arus informasi sering membuat seseorang kehilangan momen untuk memahami diri sendiri.

"Kami ingin menjadikan Good Duck sebagai tempat bagi setiap individu untuk berhenti sejenak dan berpikir tentang dirinya sendiri, dengan cara yang playful," ungkap Dyah dalam acara Ducks After Dark di Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

Good Duck bukanlah kelas pelatihan satu arah yang memberikan jawaban pasti. Proses refleksi di dalamnya mengarahkan peserta untuk menghasilkan pemahaman baru yang konkret.

"Good Duck bukan workshop. Tidak ada kesimpulan yang disiapkan, ataupun jawaban yang sudah ditentukan sebelumnya," ujar Dyah.

Peserta akan didampingi untuk menemukan jawaban sendiri melalui media fisik yang nyata. "Yakni, berpikir dengan tangan dan menggunakan bricks sebagai mediumnya," lanjutnya.

Dua Format Pertemuan

Saat ini terdapat dua format pertemuan yang dapat dipilih peserta. Format pertama adalah Ducks After Dark, sesi tatap muka bulanan dengan jumlah peserta terbatas.

Dalam sesi ini, peserta duduk bersama di satu meja untuk menjawab pertanyaan reflektif yang sama, diiringi alunan musik dan diakhiri makan malam.

Kegiatan ini tidak melibatkan presentasi formal dan membutuhkan biaya sekitar Rp980.000 per orang.