Amerika Serikat secara resmi mencabut blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Keputusan ini diambil oleh Angkatan Laut AS setelah tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara.

Pencabutan blokade dilakukan setelah penandatanganan nota kesepahaman perdamaian pada Rabu (17/6). Proses ini berlangsung atas perintah langsung Presiden AS, Donald Trump.

in1

>>> Kanada Hajar Qatar 6-0 di Piala Dunia 2026, Kemenangan Bersejarah

Melalui nota kesepahaman tersebut, Iran berkewajiban mengizinkan kapal komersial melintasi Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari.

"Pasukan Amerika tidak menghalangi transit kapal ke atau dari pelabuhan Iran," demikian pernyataan Komando Pusat AS di media sosial, dikutip dari CNBC, Jumat (19/6/2026).

Wakil Presiden AS, JD Vance, mengonfirmasi situasi keamanan di Selat Hormuz. Ia memastikan tidak ada serangan dari pihak Iran terhadap kapal yang melintas.

"Sejauh ini mereka menghormati komitmen mereka," kata Vance. Ia menambahkan bahwa lebih dari 12 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz dalam semalam.

>>> Harga Bitcoin Merosot Mendekati Level 60 Ribu Dolar AS

Data Kpler mencatat tiga kapal tanker Arab Saudi membawa sekitar 6 juta barel minyak di jalur tersebut.

Sebelum konflik, Selat Hormuz dilewati sekitar 14 juta barel minyak per hari.

Penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap kapal komersial oleh Teheran selama perang sempat menyebabkan gangguan pasokan minyak bumi terbesar sepanjang sejarah.

Analisis Kpler menunjukkan pengiriman minyak di Selat Hormuz berpotensi kembali hingga 50 persen dari volume sebelum perang dalam 30 hari jika kesepakatan berjalan lancar.

>>> Mengenal Perbedaan Pekerja Cerdas dan Pekerja Keras untuk Karier

Namun, waktu pasti pemulihan total ekspor minyak melalui selat strategis tersebut belum dapat dipastikan. "Semuanya akan berjalan lebih bertahap," ujar Founder Energy Aspects, Amrita Sen.