Penutupan Selat Hormuz memberikan tekanan signifikan terhadap proyeksi laba perusahaan di Filipina dan Thailand. Ketergantungan tinggi pada pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah menjadi faktor utama.

Riset Maybank menunjukkan Filipina mengimpor lebih dari 90% kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah. Sementara Thailand bergantung pada pasokan dari wilayah tersebut sekitar 60%.

in1

>>> Jepang Catat Rekor Penurunan Angka Kelahiran Terendah Sepanjang Sejarah

Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang merupakan negara eksportir komoditas. Filipina dan Thailand memiliki bantalan finansial yang lebih terbatas dalam menghadapi lonjakan harga minyak global.

Dampak terhadap Sektor Penerbangan dan Properti

Analis Bloomberg Intelligence, Sufianti, menyatakan kerentanan ini mulai terlihat dan akan semakin jelas dalam laporan keuangan mendatang. Margin laba emiten pada kuartal kedua diperkirakan menyusut.

OCBC Group Research mencatat industri penerbangan menjadi salah satu sektor paling terdampak.

Maskapai seperti Thai Airways International Pcl dan PAL Holdings Inc. berada pada posisi berisiko karena minimnya lindung nilai bahan bakar.

Data Bloomberg menunjukkan sekitar 80% emiten dalam Indeks Saham Filipina mengalami pemangkasan estimasi laba bersih kuartal kedua. Angka ini merupakan rasio penurunan tertinggi di Asia Tenggara.

Laba korporasi di Filipina diproyeksikan anjlok hingga 20% pada kuartal berjalan.

Ini menjadi kontraksi terdalam sejak 2022, setelah kuartal pertama melemah 4,3% akibat kelesuan properti dan pencadangan perbankan.

>>> AS dan Iran Teken MoU Islamabad, Akhiri Perang dan Buka Selat Hormuz

Analis COL Financial, Richard Laneda, mengatakan sektor properti Filipina akan terus tertekan.

Biaya bahan bakar yang lebih tinggi dan ketidakpastian krisis melemahkan sentimen konsumen serta menunda pembelian barang bernilai besar.