Jepang Catat Rekor Penurunan Angka Kelahiran Terendah Sepanjang Sejarah
Jepang kembali mencatat rekor penurunan angka kelahiran pada 2025. Jumlah bayi yang lahir hanya mencapai 671.236 jiwa, terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899.
Angka tersebut turun hampir 15 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.
>>> AS dan Iran Teken MoU Islamabad, Akhiri Perang dan Buka Selat Hormuz
Tingkat fertilitas total (TFR) juga menyusut ke 1,14 anak per perempuan, jauh di bawah tingkat pengganti populasi sebesar 2,1.
Penurunan ini terjadi 15 tahun lebih awal dari prediksi sebelumnya yang memperkirakan hal baru terjadi pada 2040-an.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menilai Jepang menghadapi tantangan multidimensional.
Faktor Penyebab dan Dampak
Menurut Prof Ronny, penurunan angka kelahiran dipicu oleh tingginya biaya hidup dan pergeseran nilai sosial di kalangan generasi muda.
Banyak yang menunda pernikahan karena faktor ekonomi dan budaya kerja yang ketat.
Kebijakan pemerintah seperti subsidi pendidikan dan penitipan anak gratis dinilai belum efektif membalikkan tren. Norma sosial masih memaksa perempuan memilih antara karier atau keluarga.
>>> Atur Keuangan Awal Tahun 2026 demi Jaga Stabilitas Rumah Tangga
Selain kelahiran rendah, Jepang juga menghadapi penuaan penduduk masif.
Hampir 30 persen populasi berusia di atas 65 tahun, meningkatkan beban fiskal dan mengancam sistem pensiun serta layanan kesehatan.
Resistensi terhadap Pekerja Asing
Pemerintah Jepang mulai membuka akses bagi pekerja asing untuk mengatasi defisit tenaga kerja.
Namun, survei Stanford Japan Barometer pada Februari 2026 menunjukkan 53 persen warga tidak setuju dengan perluasan penerimaan pekerja asing.
Peneliti Stanford, Prof Kiyoteru Tsutsui, mengatakan pergeseran sikap publik dipengaruhi debat politik terkait imigrasi. Masyarakat lebih terbuka pada pekerja asing berpendidikan tinggi dan fasih berbahasa Jepang.
Prof Ronny menegaskan solusi jangka panjang tidak bisa hanya mengandalkan imigrasi.
>>> Infiniti Land dan UI Jalin Kerja Sama Riset Perumahan Berkelanjutan
Jepang memerlukan reformasi internal untuk menciptakan ekosistem ramah keluarga dan mengandalkan teknologi robotika serta AI untuk menjaga produktivitas.
Update Terbaru
Minim Doktor, Kemdiktisaintek Buka Jalur Afirmasi bagi Dosen di NTT
Jumat / 19-06-2026, 10:00 WIB
Arab Saudi Bangun Danau Air Tawar Raksasa di Tengah Gurun
Jumat / 19-06-2026, 10:00 WIB
FIFA Undang YouTuber Korban Rasisme di Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 09:56 WIB
Alasan Richard Lee Ajukan Tahanan Kota: Kemanusiaan dan Kondisi Kesehatan
Jumat / 19-06-2026, 09:55 WIB
Mako Bakery Promo Dry Cake Mulai Rp 41.000 pada 9-14 Mei 2026
Jumat / 19-06-2026, 09:55 WIB
Polisi Amankan Tongkang Batu Bara yang Didamparkan di Pangandaran
Jumat / 19-06-2026, 09:55 WIB
Awal 2026, Ekonomi Domestik Dorong Masyarakat Lebih Cermat Kelola Keuangan
Jumat / 19-06-2026, 09:55 WIB
Jadwal Piala Dunia 2026: Kanada Hadapi Qatar di Grup B
Jumat / 19-06-2026, 09:54 WIB
Kurs Dolar AS Menguat ke Rp 17.818 pada 19 Juni 2026
Jumat / 19-06-2026, 09:52 WIB
Simulasi Pajak BYD M6 DM Berdasarkan NJKB Permendagri, Capai Rp2,7 Juta
Jumat / 19-06-2026, 09:52 WIB
Swiss Hadapi Bosnia-Herzegovina, Buru Kemenangan Perdana Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 09:51 WIB
Harga Cabai di Lebak Turun Akibat Pasokan Melimpah
Jumat / 19-06-2026, 09:48 WIB
Pemkot Bogor Tanamkan Karakter Positif Siswa Lewat Program Serbukatif
Jumat / 19-06-2026, 09:48 WIB
Yen Jepang Melemah ke Bawah 161 per Dolar AS, Terendah Sejak Juli
Jumat / 19-06-2026, 09:48 WIB






