Nilai tukar yen Jepang merosot ke level terendah sejak Juli 2024. Pada Jumat (19/6), yen berada di bawah 161 per dolar AS.

Pelemahan ini dipicu oleh melebarnya perbedaan kebijakan moneter antara Jepang dan Amerika Serikat. Otoritas Jepang sebelumnya telah melakukan intervensi besar pada 30 April lalu untuk menyokong yen.

in1

>>> Lim Ji Yeon Hapus Tato Eyeliner karena Hambat Syuting Drama

Namun, penurunan terbaru menghapus seluruh keuntungan dari intervensi tersebut. Bank Sentral Jepang (BoJ) telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1% awal pekan ini.

Langkah itu diambil untuk meredam inflasi akibat konflik Timur Tengah.

Di sisi lain, Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga dan memberi sinyal kenaikan di akhir tahun, memperkuat dolar.

>>> Tottenham Hotspur Resmi Rekrut Jan Paul van Hecke dari Brighton

Kesiapan Pemerintah Jepang

Sekretaris Kabinet Utama Minoru Kihara menyatakan pihak berwenang siap merespons pergerakan mata uang yang berlebihan. Pernyataan itu menegaskan kesiapan intervensi jika diperlukan.

Wakil Gubernur BoJ Ryozo Himino mengatakan bank sentral akan melanjutkan peningkatan suku bunga acuan. Langkah ini diambil sambil memantau risiko inflasi inti yang bisa melampaui target 2%.

>>> Ceko dan Afrika Selatan Berbagi Angka di Grup A Piala Dunia 2026

"Ada risiko inflasi inti dapat menanjak ke atas dari target kami," ujar Himino di hadapan parlemen. Ia menjelaskan dasar kebijakan pengetatan moneter bertahap yang ditempuh BoJ.