Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,75% berpotensi memicu penyesuaian kupon obligasi korporasi.

Investor saat ini menuntut imbal hasil yang lebih tinggi seiring dengan lonjakan yield Surat Berharga Negara (SBN).

in1

>>> Meksiko Bekuk Korea Selatan 1-0, Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026 di Tangan El Tri

Tuntutan tersebut bertujuan untuk mengompensasi risiko kredit serta likuiditas yang melekat pada surat utang korporasi.

Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menjelaskan bahwa transmisi kenaikan BI Rate ke pasar obligasi korporasi tidak selalu berjalan secara instan.

Namun, pergerakan yield SBN sebagai acuan imbal hasil bebas risiko sudah mulai tercermin pada penerbitan obligasi korporasi yang baru.

Ketika yield SBN merangkak naik, investor akan meminta tambahan kupon dari obligasi korporasi guna mengompensasi risiko kredit, risiko likuiditas, serta volatilitas harga di pasar sekunder.

"Karena itu, penerbit yang masuk pasar setelah kenaikan suku bunga biasanya perlu menawarkan kupon yang lebih kompetitif dibandingkan dengan periode ketika yield acuan masih rendah," ujarnya kepada Kontan, Kamis (18/6/2026).

Penyesuaian instrumen investasi ini mulai terlihat pada penerbitan obligasi korporasi dengan peringkat tinggi.

Kenaikan Rata-rata Kupon di Sektor Multifinance

Ahmad mencontohkan sektor multifinance yang mencatat kenaikan rata-rata kupon dalam beberapa bulan terakhir.

Rata-rata kupon obligasi korporasi berperingkat AAA untuk tenor satu tahun naik menjadi 5,10% pada periode April–Mei 2026, dari sebelumnya 4,84% pada kuartal I 2026.

Sementara itu, rata-rata kupon untuk tenor tiga tahun mengalami peningkatan dari 5,64% menjadi 5,95%.

>>> Review WhatsApp Plus: Fitur Pin Melimpah dengan Kustomisasi Menarik

Meski ada kenaikan, Ahmad menganggap pergerakan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan yield SBN yang terjadi belakangan ini.