Sektor properti dan konsumen kelas menengah terancam mengalami tekanan berat akibat lonjakan suku bunga acuan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Lonjakan agresif ini dinilai memicu risiko kenaikan biaya bagi pengembang sekaligus memberatkan beban cicilan masyarakat, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Jumat (19/6/2026).

in1

>>> Batas Senja Gandeng Musisi Australia Shumo AG Rilis Single Iron Veins

Kenaikan Bertahap BI Rate

Berdasarkan data Bank Indonesia, kenaikan suku bunga acuan tersebut terjadi secara bertahap dalam tiga rapat dewan gubernur terakhir.

Pada periode 19-20 Mei 2026, BI Rate naik 50 bps menjadi 5,25 persen, disusul kenaikan 25 bps menjadi 5,5 persen pada 9 Juni 2026, dan kembali meningkat menjadi 5,75 persen pada 18 Juni 2026.

Kebijakan moneter yang ketat ini diprediksi membuat perbankan mengerek suku bunga KPR komersial atau non-subsidi dalam waktu dekat.

Situasi tersebut tidak hanya menghambat minat beli konsumen baru yang menghadapi peningkatan biaya hidup, tetapi juga membebani nasabah lama dengan lonjakan nilai angsuran bulanan.

Tekanan serupa juga membayangi para pengembang perumahan akibat pembengkakan biaya material proyek dan kenaikan biaya dana pinjaman bank.

>>> Pemilik Mobil Pasang GPS Tracker untuk Tingkatkan Keamanan Kendaraan

Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Bambang Ekajaya memproyeksikan situasi ini berpotensi menghentikan ekspansi usaha di industri real estat.

"Ujung-ujungnya mengarah ke bad debt (kredit macet) bahkan terburuk bisa ke bankruptcy (kebangkrutan)," ungkap Bambang saat dihubungi, Kamis (18/6/2026).

Guna mengantisipasi dampak buruk tersebut, para pelaku usaha di sektor properti kini cenderung memilih opsi untuk mengamati perkembangan pasar secara hati-hati.

Langkah ini diambil karena dinamika pasar properti sangat rentan terhadap fluktuasi suku bunga perbankan.

>>> Indonesia dan Kuwait Sepakat Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Energi

"Sektor properti merupakan sektor yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga dan tentu yang paling berpengaruh adalah permintaan konsumen khususnya di segmen menengah yang langsung terkena dampak kenaikan bunga, sementara segmen bawah relatif ada minat karena KPR-nya di subsidi asalkan daya beli mereka juga tetap terjaga," terang Bambang.