Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan format baru dengan 48 tim, tetapi juga menerapkan kebijakan sesi jeda minum atau hydration break di tengah pertandingan.

Langkah ini diambil untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem di kota-kota tuan rumah yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

in1

>>> Ducati vs Aprilia: Persaingan Memanas Jelang MotoGP Ceko 2026

Kebijakan tersebut menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan cairan tubuh merupakan elemen krusial untuk mempertahankan performa pemain sepanjang 90 menit.

Jeda Babak Pertama: Momen Strategis Pemulihan

Bagi penonton, waktu istirahat babak pertama atau halftime kerap dianggap sebagai jeda biasa.

Namun, bagi tim medis dan ahli nutrisi, durasi 15 menit tersebut menjadi momen strategis untuk memulihkan energi serta cairan yang hilang.

Direktur Sports Performance and Nutrition Education Herbalife, Dr. Krissy Ladner, menjelaskan bahwa berkurangnya cairan tubuh selama laga berpengaruh langsung terhadap kapasitas fisik dan mental atlet.

"Atlet dapat kehilangan satu hingga tiga liter keringat setiap jam.

Bahkan kehilangan cairan sebesar dua persen dari berat badan sudah cukup untuk menurunkan performa, seperti kecepatan sprint, kemampuan menggiring bola, waktu reaksi, hingga meningkatkan rasa lelah," kata Dr. Ladner.

Keringat tidak hanya mengandung air, melainkan juga membawa mineral penting seperti natrium, klorida, kalium, magnesium, dan kalsium.

Elektrolit ini berfungsi mendukung kontraksi otot, performa saraf, hingga stabilitas kerja jantung.

Kekurangan unsur-unsur tersebut berisiko memicu kram, sakit kepala, pusing, dan penurunan respons tubuh.

Kondisi tersebut membuat konsumsi air putih saja dinilai tidak cukup untuk aktivitas olahraga intensitas tinggi yang berjalan lebih dari satu jam.

"Air dapat menggantikan volume cairan yang hilang, tetapi tidak menggantikan natrium. Padahal, natrium membantu mempertahankan cairan di dalam tubuh dan mendukung penyerapannya ke dalam sel," jelasnya.