Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Jumat pagi, terdorong oleh menguatnya dolar AS seiring meningkatnya prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah melemah pasca pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

in1

>>> RUPS PLN 2026 Ubah Susunan Direksi dan Tambah Posisi Wakil Direktur Utama

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang masih kembali menguat oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed pasca FOMC,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Prospek tersebut muncul karena inflasi AS saat ini berada di angka 4,2 persen, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.

Pada Jumat pagi, rupiah bergerak melemah 51 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.845 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.794 per dolar AS.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen untuk mencapai target stabilitas harga 2 persen.

Ia menyatakan bahwa level tersebut tetap menjadi tujuan jangka panjang bank sentral dan tidak boleh ditinjau kembali sebelum The Fed mampu mewujudkannya.

>>> Personalfinance: Metode 50/30/20 untuk Hitung Biaya Hidup Ideal Bulanan

Indeks dolar AS mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir.

Kekhawatiran pasokan minyak mentah dunia yang belum pulih akibat perang turut mendukung dolar AS, meskipun kesepakatan damai tahap pertama antara AS dengan Iran memberikan sentimen positif bagi rupiah.

“Kesepakatan damai tahap pertama ini tentunya mendukung rupiah, namun untuk jangka pendek fluktuasi seperti ini terjadi, investor masih memberikan perhatian pada prospek suku bunga The Fed,” kata Lukman.

Dari sisi domestik, keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan status pasar Indonesia sebagai emerging market (EM) cukup melegakan dan dapat mendukung rupiah.

Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate juga dinilai penting untuk menopang rupiah, dan diperkirakan akan dinaikkan sekitar 50 basis points ke depannya.

>>> 3 Peringatan Penting pada 26 April: HKB, HKI Sedunia, dan Chernobyl

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi bergerak dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.