Bahan baku resin polyphenylene ether (PPE) kemurnian tinggi yang jarang diketahui publik kini menjadi ancaman serius bagi industri teknologi global.

Material ini sangat krusial dalam produksi papan sirkuit cetak (PCB) untuk menahan panas, menjaga stabilitas sinyal, dan memastikan keandalan perangkat.

in1

>>> IHSG Diprediksi Melemah 19 Juni 2026, Simak Rekomendasi Saham dari Analis

Tanpa resin ini, smartphone, laptop, server kecerdasan buatan (AI), pemancar 5G, hingga mobil listrik tidak dapat beroperasi maksimal.

Krisis bermula ketika kompleks industri dan petrokimia raksasa di Jubail, Arab Saudi, terpaksa berhenti beroperasi awal tahun ini.

Gangguan di Jubail tidak murni dimulai dari serangan rudal pada 6-7 April 2026.

Sejak akhir Maret, sejumlah pabrik sudah mulai ditutup karena pengiriman kargo melalui Selat Hormuz dinilai terlalu berbahaya akibat memanasnya konflik.

Serangan rudal kemudian memperparah sistem logistik yang sudah lumpuh.

CEO Dow, Jim Fitterling, yang memiliki perusahaan patungan dengan Saudi Aramco di kompleks tersebut, memperkirakan butuh waktu setidaknya 275 hari lebih sebelum sistem logistik dan rantai pasok bisa kembali normal.

Harga Papan Sirkuit Meroket Tajam

Mengganti resin dengan bahan alternatif bukanlah perkara mudah karena pabrikan harus merancang ulang papan sirkuit, menguji kembali performanya, dan mengurus ulang sertifikasi keamanan.

Akibatnya, harga komponen melonjak tajam di pasar internasional.

Berdasarkan catatan Goldman Sachs, harga PCB secara global telah melonjak hingga 40 persen antara Maret dan April.

TTM, produsen PCB asal AS, menaikkan harga jualnya di kisaran 5 hingga 25 persen.

Waktu tunggu untuk input resin epoksi melonjak drastis dari biasanya hanya 3 minggu menjadi 15 minggu.

Pakar rantai pasok dari Wichita State University, Profesor Usha Haley, mengungkapkan bahwa kompleks Jubail memasok sekitar 70 persen kebutuhan resin PPE kemurnian tinggi dunia.