Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market membuka peluang masuknya kembali dana asing ke pasar modal domestik.

Langkah ini menghilangkan kekhawatiran penurunan status menjadi Frontier Market sehingga memulihkan kepercayaan investor global sekaligus menghindari risiko arus keluar modal asing secara masif dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

in1

>>> Film Indonesia Bersinar di Festival Film Internasional Shanghai

Peluang masuknya dana asing ke pasar saham dinilai cukup besar apabila status freeze atau pembekuan perubahan komposisi indeks saham Indonesia sejak awal 2026 berakhir dengan adanya perbaikan.

“Peluangnya sangat besar (dana asing masuk).

Skenarionya, ekspektasi pasar ini bisa berupa kepastian berakhirnya status freeze atau bertahannya kita di emerging market dengan catatan perbaikan,” ujar Azharys Hardian, Investment Specialist KISI Sekuritas.

Potensi aliran dana asing yang masif akan terdorong signifikan jika MSCI menaikkan bobot Foreign Inclusion Factor (FIF) untuk saham Indonesia, yang secara otomatis menaikkan alokasi investasi global.

“Pemicu utama terjadinya inflow asing secara masif adalah apabila MSCI memutuskan untuk menaikkan bobot Foreign Inclusion Factor Indonesia.

Jika ini terjadi, dana asing akan mengalir deras kembali ke bursa domestik,” paparnya.

Sektor Pertambangan dan Ritel Diproyeksikan Jadi Penerima Manfaat

Sektor pertambangan dan ritel diproyeksikan menjadi penerima manfaat utama likuiditas ini karena memiliki deretan emiten yang sangat likuid dengan kapitalisasi pasar besar.

“Jika MSCI memberikan sinyal positif yang memicu masuknya dana asing, selain sektor perbankan yang selalu jadi pintu masuk utama, sektor lain yang paling berpotensi menikmati berkah likuiditas ini adalah sektor mining (pertambangan) dan retail.

Kedua sektor ini memiliki keterwakilan emiten yang likuid dan menarik bagi portofolio investor global,” tukas dia.