Fenomena unik terjadi di kalangan Gen Z pencari kerja. Berdasarkan survei McKinsey, 70% dari mereka meminta bantuan orang tua saat mencari kerja.

Bahkan, 83% yang berhasil mendapatkan pekerjaan penuh waktu mengakui kontribusi orang tua dalam kesuksesan mereka.

in1

>>> Harga Pangan 19 Juni 2026 Melonjak, Cabai Rawit Merah Tembus Rp100.000

Gen Z memasuki pasar kerja yang jauh lebih kompetitif dibanding generasi sebelumnya. Banyak posisi entry-level mensyaratkan pengalaman, sementara proses rekrutmen panjang dan penuh tes.

Ketika risiko gagal terasa tinggi, orang tua sering dianggap sebagai sumber bantuan strategis. Mulai dari mengedit CV, latihan wawancara, hingga memanfaatkan jaringan profesional mereka.

40% Orang Tua Hadir Saat Wawancara

Survei lain mengungkap bahwa 40% orang tua dari Gen Z ikut hadir dalam wawancara kerja. Bayangkan seorang kandidat berusia 22 tahun datang ke ruang wawancara tidak sendirian.

Ia ditemani orang tuanya yang ikut duduk, mencatat, hingga membantu negosiasi gaji. Praktik ini mulai menjadi hal yang semakin umum terjadi pada 2026.

Data yang dirilis pada akhir 2025 menunjukkan sekitar 77% pencari kerja Gen Z melibatkan orang tua dalam proses rekrutmen.

Keterlibatan ini bukan sekadar mengecek CV, tetapi sudah masuk ke tahap yang lebih dalam.

Melansir Times of India, beberapa temuan utama dari studi tersebut antara lain: 40% orang tua ikut hadir dalam sesi wawancara, 27% terlibat dalam negosiasi gaji dan benefit, 63% membantu mengirimkan lamaran, 54% menulis email tindak lanjut, dan 75% dijadikan referensi profesional.

Setelah anak diterima bekerja, sekitar 80% responden mengaku orang tua pernah berkomunikasi langsung dengan atasan terkait promosi, konflik kerja, hingga beban pekerjaan.