Generasi Z kini menjadi kekuatan baru dalam dunia kerja modern dengan memilih jalur gig economy.

Sistem kerja berbasis proyek atau tugas jangka pendek ini umumnya dilakukan secara mandiri tanpa terikat kontrak tetap.

>>> Baznas Tetapkan Zakat Fitrah Ramadhan 2026 Rp 50.000 per Orang

Model kerja ini menawarkan fleksibilitas waktu dan kebebasan menentukan proyek. Namun, pekerja gig juga menghadapi tantangan finansial karena pendapatan tidak stabil serta minimnya fasilitas asuransi atau tunjangan.

Dilansir dari Personalfinance yang merujuk data Investopedia, ada sejumlah langkah penting yang dapat membantu Gen Z menjaga stabilitas finansial di tengah pendapatan yang fluktuatif.

Langkah Mengelola Keuangan bagi Pekerja Gig

Pekerja gig biasanya memiliki penghasilan yang naik turun tergantung jumlah proyek. Karena itu, penting untuk memiliki anggaran yang bisa menyesuaikan kondisi pendapatan setiap bulan.

Gen Z disarankan mencatat semua pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Langkah ini berguna agar mereka bisa mengetahui kemampuan finansial sebenarnya.

Dengan pencatatan rutin, keputusan belanja harian maupun mingguan bisa dilakukan lebih bijak. Pekerja muda dapat mengatur pengeluaran tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.

Bagi pekerja yang tidak memiliki penghasilan tetap, dana darurat menjadi pelindung utama. Idealnya, dana tersebut setara enam hingga dua belas bulan biaya hidup.

Uang ini bisa membantu ketika proyek berkurang atau terjadi keadaan darurat. Investopedia menekankan pentingnya menabung secara otomatis setiap kali menerima bayaran agar dana cadangan terus bertambah.

Berbeda dengan karyawan tetap, pekerja gig harus mengatur sendiri pajak penghasilan serta perlindungan asuransi.

Gen Z perlu menyisihkan sebagian pendapatan, misalnya 25 hingga 30 persen, untuk membayar pajak tahunan.

Selain itu, memilih asuransi kesehatan atau asuransi kecelakaan kerja secara mandiri juga penting. Langkah ini berguna untuk menjaga keamanan finansial di masa depan.