Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan nilai kepemilikan saham di Provinsi Bali mencapai Rp7,95 triliun pada triwulan I 2026.

Kepala OJK Bali Parjiman menyatakan realisasi itu tumbuh signifikan 48,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp5,35 triliun.

>>> HokBen Hadirkan Promo Spesial Hari Kebangkitan Nasional 19-21 Mei 2026

Menurut Parjiman, angka tersebut menunjukkan investor saham di Bali masih memiliki kepercayaan positif meskipun perekonomian global terdampak krisis geopolitik.

Jumlah investor saham di Bali per Maret 2026 berdasarkan identifikasi investor tunggal (SID) mencapai 392.841 SID.

Jumlah itu tumbuh hampir 30 persen dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 302 ribu SID.

OJK mencatat seluruh jenis investor naik, mencakup investor saham, reksa dana, dan surat berharga negara (SBN).

Investor reksa dana mendominasi dengan 369.562 investor, disusul saham sebanyak 199.394 investor, dan SBN sebanyak 34.085 investor.

>>> Saham BMW Anjlok 7 Persen Usai Pangkas Target Margin Operasional

Parjiman menambahkan bahwa investor saham tumbuh paling tinggi, yaitu 31,97 persen.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi dan inklusi sektor pasar modal masih perlu ditingkatkan, masing-masing sebesar 17,78 persen dan 1,34 persen.

Secara umum, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen.

Hasil tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang mencatat indeks literasi keuangan 65,43 persen dan inklusi keuangan 75,02 persen.

>>> Bank DBS Indonesia Genjot Dana Kelolaan Wealth Management Tumbuh 7 Persen

Untuk menggenjot pasar modal di Bali, OJK terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai strategi, termasuk edukasi tatap muka, daring, aliansi strategis, dan edukasi tematik.