Fenomena ini sering dianggap sebagai bentuk overprotective parenting.

Penyebab di Balik Fenomena Ini

Kondisi yang melatarbelakangi fenomena ini ternyata lebih kompleks. Gen Z masuk ke dunia kerja di tengah perubahan besar akibat pandemi COVID-19 yang menciptakan sejumlah tantangan.

in1

Pertama, keterbatasan jaringan profesional. Jika generasi sebelumnya bisa memiliki puluhan koneksi kerja, rata-rata Gen Z hanya memiliki sekitar 16 koneksi.

Pembelajaran jarak jauh dan magang online membuat mereka kehilangan pengalaman interaksi langsung.

Kedua, faktor isolasi. Banyak Gen Z menghabiskan masa pembentukan karakter di depan layar.

Akibatnya, situasi seperti negosiasi tatap muka terasa asing dan menegangkan.

>>> Kanada Hancurkan Qatar 6-0 di Piala Dunia 2026, Jonathan David Cetak Hattrick

Ketiga, faktor budaya. Di sejumlah negara seperti India, keterlibatan keluarga dalam keputusan besar termasuk karier adalah hal yang wajar.

Pola ini kini mulai merambah ke dinamika kerja global.

Di satu sisi, keterlibatan orang tua bisa dianggap sebagai bentuk dukungan. Namun di sisi lain, hal ini juga memunculkan kekhawatiran.

Sejumlah perekrut menilai kehadiran orang tua dalam proses rekrutmen bisa menjadi 'red flag'.

Kandidat dinilai belum siap menghadapi tantangan profesional secara mandiri, seperti menangani klien sulit atau mengambil keputusan penting.

Risiko jangka panjangnya adalah terhambatnya perkembangan karier. Tanpa pengalaman menghadapi situasi sulit secara langsung, kemampuan kepemimpinan dan kepercayaan diri bisa tidak terbentuk optimal.

Namun, tidak semua perusahaan melihat ini sebagai masalah besar.

Beberapa startup modern dengan budaya kerja kolaboratif cenderung lebih fleksibel, selama kandidat tetap mampu menunjukkan kinerja yang baik.

Ketimbang membawa orang tua ke ruang interview, Gen Z juga kini banyak yang mulai beralih ke teknologi sebagai pendamping.