Bahan baku resin yang jarang diketahui publik kini menjadi ancaman serius bagi industri teknologi global.

Resin polyphenylene ether (PPE) tingkat kemurnian tinggi memegang peran krusial dalam produksi papan sirkuit cetak (PCB).

in1

>>> Cristiano Ronaldo Gagal Cetak Gol dalam Sepuluh Laga Turnamen Besar

Material ini berfungsi menahan panas, menjaga stabilitas sinyal, dan memastikan keandalan perangkat. Tanpa resin ini, smartphone, laptop, server AI, pemancar 5G, hingga mobil listrik tidak dapat beroperasi maksimal.

Krisis bermula ketika kompleks industri petrokimia raksasa di Jubail, Arab Saudi, terpaksa berhenti beroperasi awal tahun ini. Kejadian tersebut memicu efek domino yang melumpuhkan rantai pasok elektronik dunia.

Gangguan di Jubail tidak murni dimulai dari serangan rudal pada 6-7 April 2026.

Sejak akhir Maret, sejumlah pabrik sudah ditutup karena pengiriman kargo melalui Selat Hormuz dinilai terlalu berbahaya akibat memanasnya konflik.

Serangan rudal kemudian memperparah sistem logistik yang sudah lumpuh.

CEO Dow, Jim Fitterling, memperkirakan butuh waktu setidaknya 275 hari lebih sebelum sistem logistik dan rantai pasok bisa kembali normal.

Harga PCB Meroket 40 Persen

Bagi industri teknologi, waktu pemulihan tersebut sangat memberatkan.

Mengganti resin dengan bahan alternatif bukanlah perkara mudah karena pabrikan harus merancang ulang papan sirkuit, menguji kembali performa, dan mengurus ulang sertifikasi keamanan.

Akibatnya, harga komponen melonjak tajam. Berdasarkan catatan Goldman Sachs, harga PCB secara global telah melonjak hingga 40 persen antara Maret dan April.

Sementara itu, TTM, produsen PCB asal AS, menaikkan harga jualnya di kisaran 5 hingga 25 persen.

Waktu tunggu untuk input resin epoksi melonjak drastis dari biasanya 3 minggu menjadi 15 minggu.