Sektor-sektor ini membutuhkan investasi besar pada penguasaan teknologi, standardisasi kualitas, pembenahan ekosistem pemasok, dan peningkatan keahlian tenaga kerja.

Melalui peta jalan bertahap, Indonesia diharapkan naik kelas menjadi negara produsen teknologi energi terbarukan sekaligus mengoptimalkan penyerapan mineral kritis domestik.

in1

Berdasarkan data RUPTL 2025-2034, total penambahan kapasitas pembangkit listrik baru ditargetkan mencapai 69,5 GW.

Sebesar 42,6 GW atau 61 persen berasal dari pembangkit EBT dan 10,3 GW atau 15 persen dari sistem penyimpanan energi.

Sektor PLTS memiliki porsi terbesar dalam pembangkit EBT, yaitu 17,1 GW.

Diikuti PLTA 11,7 GW, PLTB 7,2 GW, PLTP 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan nuklir 0,5 GW.

Kapasitas penyimpanan mencakup PLTA pumped storage 4,3 GW dan BESS 6,0 GW.

>>> PT Colorpak Indonesia Tbk CLPI Bagikan Dividen Tunai Rp52 Miliar

Sementara itu, pembangkit fosil berbasis gas sebesar 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW.