Militer Amerika Serikat dilaporkan menggunakan model kecerdasan buatan Grok milik Elon Musk untuk mengidentifikasi target serangan udara di Iran pada Kamis (18/6/2026).

Penggunaan teknologi ini terungkap setelah sebelumnya model AI Claude buatan Anthropic juga digunakan untuk misi pengeboman serupa.

in1

>>> Harga Emas Spot Turun Akibat Sinyal Hawkish The Fed

Serangan udara tersebut menyasar berbagai infrastruktur, termasuk fasilitas sipil seperti Kompleks Olahraga Azadi di Teheran dan sekolah perempuan Shajareh Tayyebeh.

Pengeboman di sekolah tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 156 orang, termasuk lebih dari 100 anak-anak.

Pengakuan Pejabat Pentagon

Keterlibatan Grok terungkap melalui pernyataan tertulis Kepala Kecerdasan Buatan Pentagon, Cameron Stanley, dalam persidangan kasus lingkungan yang melibatkan xAI.

Stanley memaparkan intensitas penggunaan teknologi tersebut dalam operasi militer dalam waktu singkat.

"2,000 munitions at 2,000 distinct targets within 96 hours," ujar Stanley.

Laporan dari Independent menyatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya pejabat pemerintahan Trump mengonfirmasi penggunaan Grok dalam konflik Iran yang telah menewaskan total 3.468 orang.

>>> Ilmuwan Temukan Kuburan Paus Purba Terbesar di Dasar Laut Australia

Stanley menjelaskan posisi strategis chatbot tersebut di antara model kecerdasan buatan lainnya yang ada saat ini.

"Currently capable of supporting national security applications," kata Stanley.

Ia memberikan penilaian akhir mengenai urgensi teknologi milik Elon Musk ini bagi kepentingan strategis Amerika Serikat.

"Matter of paramount national security," ujar Stanley.

Pernyataan tersebut mencuat di tengah gugatan hukum oleh NAACP terhadap xAI atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Udara Bersih akibat polusi turbin di pusat datanya.

>>> Harga Minyak Brent Menguat Akibat Ketegangan Hubungan AS dan Iran

Departemen Kehakiman bersama Pentagon kini menekan hakim federal untuk membatalkan tuntutan tersebut dengan alasan stabilitas operasi pertahanan nasional.