Harga Minyak Brent Menguat Akibat Ketegangan Geopolitik AS dan Iran
Harga minyak Brent menguat pada perdagangan Kamis (19/6/2026) setelah pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memicu kekhawatiran pasar terhadap kelangsungan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Brent naik 30 sen atau 0,38 persen ke level US$ 79,85 per barel.
>>> MSCI Turunkan Rating Arus Informasi Pasar Modal Indonesia Jadi Negatif
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS justru turun 19 sen atau 0,25 persen ke US$ 76,60 per barel.
Sebelum pernyataan Vance, Brent sempat menyentuh level terendah sejak 27 Februari 2026 dan WTI berada di level terendah sejak 4 Maret 2026.
Vance memperingatkan Israel agar tidak melancarkan serangan lanjutan terhadap Hizbullah di Lebanon. Hal ini menimbulkan keraguan pasar atas daya tahan kesepakatan damai Washington dan Teheran.
Pelaku pasar kembali memusatkan perhatian pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum konflik.
"Pernyataan wakil presiden tampaknya membuat pasar kembali waspada.
Gangguan sekecil apa pun saat ini akan langsung tercermin dalam pergerakan harga minyak," ujar Partner Again Capital John Kilduff.
John Kilduff menambahkan bahwa pasar saat ini sudah memperhitungkan skenario pemulihan penuh arus minyak melalui Selat Hormuz. Jika realisasinya di bawah ekspektasi, pasar akan menghadapi masalah.
>>> BGN Alihkan Anggaran Makan Gratis dari 76 Sekolah di Jawa ke Daerah Rentan
Berdasarkan nota kesepahaman antara AS dan Iran di Islamabad, kedua negara sepakat menjalani negosiasi selama 60 hari dengan target pemulihan kapasitas penuh Selat Hormuz dalam 30 hari.
Kesepakatan tersebut juga mengikat sekutu kedua negara, termasuk terkait konflik di Lebanon, serta mencakup rencana pembiayaan senilai US$ 300 miliar untuk pemulihan ekonomi Iran.
Isu program nuklir masih ditunda pembahasannya.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak kawasan Teluk kembali normal pada akhir Juli dan produksi pulih penuh pada Oktober.
Sementara itu, BNP Paribas menilai harga Brent akan sulit kembali ke level sebelum konflik dan memperkirakan US$ 75 per barel menjadi batas bawah yang kuat.
Sentimen global lain yang memengaruhi pasar adalah proyeksi penurunan konsumsi minyak China pada 2026 sebesar 4,9 persen menjadi 753 juta ton akibat transisi energi.
>>> Ilmuwan Temukan Kuburan Massal Ratusan Paus di Dasar Laut Australia
Selain itu, serangan drone Ukraina kembali menghantam kilang minyak di ibu kota Rusia untuk kedua kalinya dalam sepekan.
Update Terbaru
Stanford Buka Seed Transformation Program 2027 untuk Pengusaha Indonesia
Jumat / 19-06-2026, 07:22 WIB
AS Batalkan Pembongkaran Jaringan Pengamatan Laut OOI Senilai US$386 Juta
Jumat / 19-06-2026, 07:22 WIB
Investor Pemula Wajib Kuasai Istilah Saham dan Proteksi Finansial
Jumat / 19-06-2026, 07:21 WIB
Persebaya Surabaya Resmi Rekrut Penyerang Timnas Ramadhan Sananta
Jumat / 19-06-2026, 07:21 WIB
BYD Klarifikasi Penumpukan Kontainer di Tanjung Priok Berisi Komponen, Bukan Mobil
Jumat / 19-06-2026, 07:21 WIB
Pendaftaran Akun KIP Kuliah 2026 Dibuka Mulai 3 Februari
Jumat / 19-06-2026, 07:21 WIB
Rupiah NDF Menguat ke Rp17.795 per Dolar AS Pasca Kenaikan Suku Bunga BI
Jumat / 19-06-2026, 07:20 WIB
Omoway Luncurkan Motor Listrik Pintar OMO X, Indonesia Jadi Pasar Perdana
Jumat / 19-06-2026, 07:20 WIB
Bisnis Daun Bambu Dorong Ekonomi Pedesaan di Anhui, China Timur
Jumat / 19-06-2026, 07:20 WIB
Prabowo Minta Bank Himbara Tak Hanya Cari Untung, Tapi Dukung Ekonomi
Jumat / 19-06-2026, 07:20 WIB
Pilihan Chipset Smartphone Terbaik Sesuai Kelas dan Kebutuhan
Jumat / 19-06-2026, 07:20 WIB
Omoway Resmi Luncurkan Motor Listrik OMO X, Indonesia Jadi Pasar Perdana
Jumat / 19-06-2026, 07:20 WIB
Kanada Hajar Qatar 6-0 di Piala Dunia 2026, Dua Kartu Merah Warnai Laga
Jumat / 19-06-2026, 07:18 WIB
Promo Sabun Mandi dan Cuci Piring di Alfamart, Indomaret, Superindo Awal Mei 2026
Jumat / 19-06-2026, 07:18 WIB






