Pemulihan arus lalu lintas energi di Selat Hormuz berpotensi menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia.

Hal ini terjadi melalui penurunan premi risiko geopolitik dan stabilisasi harga energi global pada Kamis (18/6/2026).

in1

>>> OJK Tetapkan Direksi Baru BEI Periode 2026-2030, Fokus pada Reformasi Pasar Modal

Normalisasi jalur pasokan minyak mentah dunia diperkirakan mampu meredakan tekanan fiskal, mengendalikan laju inflasi, serta memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Analis Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim, dalam risetnya pada 18 Juni 2026 menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz dan penurunan premi risiko geopolitik memperbaiki prospek sektor domestik Indonesia.

Hal ini didorong oleh penurunan harga energi, penguatan rupiah, dan berkurangnya tekanan fiskal.

Penurunan harga minyak dunia akan memberikan dampak positif langsung bagi Indonesia.

Negara ini tercatat mengimpor sekitar 362.000 barel minyak mentah per hari pada tahun 2025, di mana sebagian pasokannya berasal dari kawasan Timur Tengah.

>>> MPMRent Tambah 50 Unit Wuling New BinguoEV Lite untuk Armada Korporasi

Sektor yang Diuntungkan

Maybank Sekuritas memproyeksikan sektor saham siklikal domestik dan sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.

Sektor tersebut meliputi perbankan, properti, konsumer, ritel, infrastruktur, serta utilitas.

Penguatan mata uang rupiah dan penurunan biaya operasional energi dinilai akan menekan biaya pendanaan perbankan sekaligus menjaga kualitas aset emiten seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.

Sektor konsumer seperti KLBF, MYOR, dan INDF diuntungkan oleh pemangkasan biaya input. Sementara itu, emiten ritel seperti ACES, MAPI, dan AMRT terdorong oleh peningkatan daya beli masyarakat.

Sektor properti seperti SMRA, CTRA, BSDE, dan PWON akan mengalami perbaikan keterjangkauan konsumen.

>>> Pahami Profil Risiko Sebelum Memulai Investasi di Pasar Modal

Di sisi lain, emiten sektor migas seperti MEDC berpotensi mengalami penurunan ekspektasi pendapatan akibat normalisasi harga minyak global.