Pemerintah Amerika Serikat di bawah administrasi Donald Trump mengakui telah menggunakan kecerdasan buatan Grok milik perusahaan xAI Elon Musk untuk mendukung operasi militer, termasuk meluncurkan ribuan serangan rudal di Iran.

Pengakuan tersebut terungkap pada Senin setelah Departemen Kehakiman (DOJ) melakukan intervensi dalam gugatan hukum lingkungan federal yang diajukan oleh NAACP terhadap pusat data xAI di Mississippi.

in1

>>> Wall Street Pulih Usai Kesepakatan Damai AS-Iran

DOJ meminta hakim menolak gugatan tersebut karena operasional pusat data tersebut sangat vital bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

Peran Grok dalam Operasi Militer

Dalam dokumen pengadilan, DOJ menyatakan bahwa upaya NAACP untuk menghentikan operasional turbin gas alam xAI di Mississippi dapat mengancam keamanan nasional, ekonomi, dan energi karena model AI tersebut mendukung operasi militer Departemen Perang.

Kepala Pejabat Digital dan Kecerdasan Buatan Departemen Pertahanan AS Cameron Stanley memberikan pernyataan tertulis untuk memperkuat pembelaan tersebut.

Stanley menjelaskan bahwa Pentagon mengandalkan varian komersial xAI yang disebut Grok Gov Model yang diintegrasikan ke dalam Maven Smart Systems (MSS) untuk misi keamanan nasional yang vital.

Sistem MSS yang dijalankan oleh Palantir berfungsi menyusun citra satelit dan data lainnya ke dalam satu dasbor untuk diproses oleh sistem AI dalam menentukan target pengeboman militer AS.

Integrasi Grok Gov Model dan MSS diklaim meningkatkan efisiensi operasional militer secara signifikan selama konflik 108 hari dengan Iran yang berakhir pada 15 Juni 2026.

Menurut dokumen Pentagon, sistem Grok Gov Model berhasil membantu pengerahan ribuan amunisi dalam waktu singkat selama operasi militer berlangsung.

>>> Timnas Kanada Dukung Penuh Jonathan David Hadapi Qatar