MSCI kembali menyoroti rendahnya tingkat keterbukaan pasar modal Indonesia. Hal ini menimbulkan ketidakpastian menjelang keputusan status indeks pada pekan depan.

Lembaga penyedia indeks global itu mengungkapkan kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham, aktivitas perdagangan yang terindikasi terkoordinasi, dan keterbatasan pasar valuta asing.

in1

>>> Senator AS Desak Menkeu Tekan China Soal Pelemahan Yuan

Dalam laporan tinjauan aksesibilitas pasar yang dirilis Kamis (18/6/2026), MSCI secara resmi menurunkan penilaian aspek arus informasi Indonesia menjadi negatif.

Keputusan ini didasari kurangnya keterbukaan data kepemilikan saham.

Kondisi tersebut dinilai menghambat pembentukan harga saham yang wajar. Investor global juga kesulitan menilai porsi saham publik atau free float secara akurat.

MSCI juga menyoroti hambatan di sektor valuta asing, termasuk belum tersedianya pasar lepas pantai yang efisien dan pembatasan pada aktivitas pasar onshore.

Jika status Indonesia diturunkan dari pasar berkembang menjadi pasar perbatasan, aliran dana keluar diperkirakan mencapai US$ 13 miliar.

Peringatan serupa sebenarnya telah dikeluarkan sejak Januari lalu.

Pemerintah dan otoritas pasar modal telah merespons dengan sejumlah reformasi, seperti menaikkan batas minimal free float emiten menjadi 15%.

>>> Uzbekistan Akui Keunggulan Kolombia pada Piala Dunia 2026

Namun, periode ini juga diwarnai mundurnya pimpinan bursa dan regulator pada Januari.

MSCI memperpanjang masa peninjauan pada April, lalu pada Mei mengeluarkan enam perusahaan besar dari indeksnya. Langkah itu memicu pelemahan lanjutan.

Sentimen Ekonomi Makro dan Kinerja Saham 2026

Penurunan status oleh MSCI akan memaksa manajer investasi pelacak indeks menjual aset di Indonesia. Manajer investasi aktif juga diproyeksikan memangkas porsi portofolio saham domestik.

Tekanan di pasar saham bertepatan dengan kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal dan kebijakan populis di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Nilai tukar rupiah sempat menyentuh rekor terendah.

Bank sentral menaikkan suku bunga acuan secara agresif dalam beberapa pekan terakhir untuk menstabilkan rupiah. Moody's dan Fitch Ratings sebelumnya juga mengubah prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif.

Sepanjang 2026, indeks acuan saham Indonesia terkoreksi sekitar 29%.

>>> Klasemen Grup B Piala Dunia 2026: Kanada dan Swiss Bersaing Ketat

Aksi jual bersih investor asing mencapai US$ 3,65 miliar, menjadikan pasar saham domestik salah satu yang berkinerja terburuk di dunia.