Peta energi global diperkirakan akan berubah drastis dalam beberapa tahun ke depan akibat krisis di Selat Hormuz.

Banyak negara mulai meninjau kembali strategi keamanan pasokan energi, jalur perdagangan, dan kemitraan internasional mereka.

in1

>>> FFI 2026 Ubah Aturan Penjurian, Film Kolaborasi Asing Tetap Boleh

Presiden Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, menyebut krisis tersebut sebagai titik balik sektor energi dunia.

"Terlepas dari bagaimana persoalan Hormuz berakhir, peta energi dunia akan mulai digambar ulang dalam dua hingga tiga tahun ke depan," kata Birol dalam pertemuan Dewan Penasihat Tinggi Asosiasi Industri dan Bisnis Turkiye di Istanbul, Kamis.

Menurut Birol, krisis energi yang dipicu perang dengan Iran telah mengubah perhitungan pasar energi global. Melimpahnya pasokan energi sebelum perang serta pelepasan cadangan minyak membantu membatasi lonjakan harga.

Namun, solusi jangka panjang hanya dapat dicapai melalui pemulihan jalur pelayaran yang aman di Selat Hormuz.

"Solusi atas masalah ini, satu-satunya cara yang paling penting, adalah pembukaan Selat Hormuz tanpa syarat dengan jaminan keamanan yang dipercaya oleh semua pihak," ujar Birol.

Birol mengingatkan bahwa hingga empat tahun lalu, perekonomian dunia dan sistem energi global memiliki dua jalur vital utama: jaringan pipa dari Siberia Barat Rusia ke Eropa dan Selat Hormuz.

"Keduanya saat ini tertutup," katanya.

Gangguan arus energi melalui Selat Hormuz, serta risiko terulangnya gangguan serupa, telah menempatkan isu kepercayaan dan diversifikasi pasokan sebagai prioritas utama dalam agenda energi global.

"Kepercayaan akan menjadi faktor yang sangat penting dalam berbagai kesepakatan di dunia energi. Negara-negara semakin memperhatikan diversifikasi pasokan dan berupaya menghindari ketergantungan pada satu sumber saja," ujar Birol.