Rencana pembangunan ballroom di kompleks Gedung Putih yang digagas Presiden AS Donald Trump menuai sorotan tajam. Biaya proyek ini dilaporkan membengkak drastis dan berpotensi membebani anggaran negara.

Berdasarkan bocoran dokumen anggaran, total biaya operasional pembangunan ruang pertemuan baru itu diperkirakan mencapai US$ 600 juta atau sekitar Rp 10,6 triliun.

in1

>>> 3 Drakor Office Romance Maret 2026, Ada Jisoo Blackpink

Angka ini melonjak dari proyeksi awal yang hanya US$ 200 juta.

Kontroversi utama muncul karena lebih dari separuh anggaran, yakni US$ 307 juta (Rp 5,4 triliun), akan ditanggung pemerintah AS dari uang pajak.

Padahal, Trump dan pihak Istana sebelumnya menyatakan pembiayaan akan ditanggung secara mandiri bersama donor swasta.

Rencana pembangunan ballroom ini didasari keinginan pribadi Trump yang kerap mengeluhkan kapasitas ruang acara Gedung Putih yang hanya mampu menampung sekitar 200 orang.

Keterbatasan itu sering memaksa pemasangan tenda sementara di halaman untuk acara kenegaraan.

>>> KONI Pusat Perkuat Hubungan Bilateral Indonesia-Kamboja Lewat Voli

Fasilitas Keamanan Bawah Tanah

Cetak biru awal menunjukkan bangunan baru akan menambah ruang seluas 90.000 kaki persegi (sekitar 8.360 meter persegi) untuk jamuan makan malam kenegaraan dan agenda resmi besar.

Kenaikan anggaran terjadi karena penambahan infrastruktur keamanan tingkat tinggi.

Fasilitas tersebut meliputi kompleks ruang bawah tanah, instalasi medis khusus, pos militer, dan pusat kendali operasi drone.

Semua itu dinilai krusial untuk keselamatan presiden dan tamu negara, namun kritik tetap mengarah pada pergeseran pendanaan dari swasta ke anggaran negara.

Lokasi pembangunan berada di kawasan Sayap Timur (East Wing) Gedung Putih yang telah dibongkar total.

>>> PSSI Percepat Naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker demi Timnas Indonesia

Jika selesai, proyek ini akan menjadi salah satu renovasi terbesar di kompleks Istana Kepresidenan AS dalam beberapa dekade.