Bayi yang menerima terlalu banyak rangsangan sensorik dapat mengalami overstimulasi. Kondisi ini rentan menyebabkan kelelahan hingga perubahan emosi atau tantrum saat batas toleransinya terlampaui.

Gejala overstimulasi sering muncul mendadak, namun ada tanda awal yang bisa dikenali.

in1

>>> Smart Parents Network Gelar Aquatic Floating Yoga untuk Bunda di Menteng

Dokter anak Kevin Kathrotia menjelaskan bahwa overstimulasi terjadi ketika bayi atau anak menerima lebih banyak rangsangan daripada yang mampu mereka tangani.

Kondisi ini paling umum pada bayi usia 2 minggu hingga 3-4 bulan. Anak yang lebih besar juga bisa mengalaminya, misalnya saat tantrum setelah seharian beraktivitas di luar.

Setiap anak memiliki kapasitas dan batas toleransi yang berbeda, yang berkembang seiring usia. Faktor pemicu biasanya kombinasi dari beberapa hal, bukan satu penyebab tunggal.

Analis perilaku Kerri Milyko mencontohkan, seorang anak mungkin nyaman di taman ramai pada suatu waktu, tetapi merasa overstimulasi di lain waktu jika kurang tidur atau melewatkan jam makan.

Tanda-tanda Overstimulasi pada Bayi

Gejala overstimulasi bervariasi pada setiap anak. Tanda umum pada bayi meliputi menangis lebih keras, menolak sentuhan, memalingkan kepala, atau ingin terus digendong.

Tanda lainnya adalah menyusu lebih sering, sangat rewel, mengepalkan tangan, menggerakkan kaki tersentak-sentak, tampak ketakutan, tantrum, dan terlihat sangat lelah.

Lingkungan bising, keramaian, pencahayaan terlalu terang, atau warna mencolok bisa menjadi penyebab utama bayi kewalahan.

Durasi menatap layar yang berlebihan juga membebani otak bayi, terutama di bawah 18 bulan.

Aktivitas harian yang terlalu padat, melewatkan tidur siang, atau tidur terlalu larut malam mempercepat bayi mengalami overstimulasi.

>>> Artotel Group Luncurkan Wisata Psikologi Mindhavana untuk Refleksi Diri