Pertengkaran dalam rumah tangga adalah hal yang wajar, bahkan pada hubungan yang sehat sekalipun.

Perbedaan pendapat dan konflik tidak bisa dihindari sepenuhnya karena suami dan istri memiliki karakter, pengalaman hidup, serta kebutuhan yang berbeda.

in1

>>> PBSI Lepas 26 Atlet Junior Indonesia ke AJC 2026 di Jepang

Menurut Psychology Today, ada sejumlah faktor psikologis yang kerap memicu keretakan hubungan tanpa disadari oleh pasangan. Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi menjadi pemicu utama konflik.

Faktor Emosional yang Memicu Konflik

Minimnya rasa aman dalam hubungan menjadi salah satu penyebab utama. Setiap individu membutuhkan perhatian, dukungan, dan kehadiran emosional dari pasangannya.

Perasaan diabaikan atau tidak didengar yang berlangsung lama dapat memicu kekecewaan. Kondisi ini memicu konflik berulang, meskipun urusan yang diperdebatkan sebenarnya bukan akar masalah.

Merasa tidak diterima apa adanya juga sering menjadi pemicu. Pasangan ingin diterima dengan segala kelebihan dan kekurangan, bukan dikritik terus-menerus.

Kritik yang berlebihan membuat salah satu pihak merasa tidak dihargai. Akibatnya, pertengkaran lebih mudah meledak karena merasa tidak pernah cukup baik.

Kurangnya apresiasi dan kehangatan juga berpengaruh besar. Ungkapan sederhana seperti pujian atau ucapan terima kasih dapat memperkuat keharmonisan.

Ketika apresiasi berkurang, pasangan bisa merasa kehadirannya tidak lagi dianggap penting. Hal ini menimbulkan jarak emosional yang memicu pertengkaran.

Kendali yang terlalu ketat atas pasangan juga menjadi sumber konflik. Kebebasan dalam mengambil keputusan merupakan kebutuhan penting dalam hubungan.

Sikap terlalu mengatur dapat memicu frustrasi dan perlawanan. Pasangan yang merasa terkekang cenderung lebih mudah bertengkar.

Perasaan gagal memenuhi kebutuhan pasangan juga sering tidak disadari. Banyak orang diam-diam merasa kurang mampu menjalani perannya dengan baik.