Kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai berlaku pada Kamis, 18 Juni 2026.

Blokade militer AS resmi dicabut dan pengiriman kapal komersial di Selat Hormuz kembali berjalan.

in1

>>> Rizky Billar Laporkan Enam Akun Medsos ke Polda Metro Jaya

Pemulihan jalur perairan internasional ini langsung memicu aktivitas maritim.

Kapal-kapal pembawa hampir 10 juta barel minyak yang sempat terdampar mulai bergerak, termasuk kapal tanker milik Arab Saudi pertama sejak konflik pecah tiga bulan lalu.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak akhir Februari 2026 sebelumnya memicu lonjakan harga energi global. Risiko krisis ekonomi di kawasan Timur Tengah pun meningkat.

Komando Pusat AS mengumumkan pencabutan blokade lalu lintas ke pelabuhan Iran. Sementara itu, Kuwait menyatakan akan meningkatkan produksi minyak mentah pasca-kesepakatan.

Negosiasi 60 Hari untuk Detail Final

Wakil Presiden AS JD Vance memaparkan bahwa batas waktu negosiasi selama 60 hari untuk menyusun detail final nota kesepahaman sudah mulai berjalan.

Nota tersebut ditandatangani pada Rabu malam.

"Pertama-tama, kami percaya bahwa jalur perairan internasional harus bebas dari bea masuk," kata Vance merespons kekhawatiran potensi penerapan bea masuk oleh Iran di Selat Hormuz.

Pemerintah AS menegaskan bahwa kerangka keamanan selat di masa depan akan dirumuskan bersama oleh negara-negara di kawasan.

"Jika selat tersebut tidak dibuka, tidak akan ada kesepakatan akhir," ujar Vance.

Pihak Gedung Putih mengklaim posisi AS berada di atas angin karena konflik ini telah memperlemah kekuatan ekonomi dan program nuklir Teheran.

"Iran telah melemah, program nuklirnya hancur, ekonominya dalam keadaan yang sangat sulit," kata Vance.

Vance menambahkan bahwa Washington tidak akan kehilangan apa pun dari negosiasi ini. "Jika tidak, tidak ada ruginya bagi kita — bagaimanapun juga, kita menang," katanya.