Kenaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi diprediksi akan mengubah preferensi konsumen di Indonesia dalam memilih kendaraan baru. Faktor efisiensi menjadi pertimbangan utama seiring lonjakan biaya operasional.

Perubahan perilaku pasar ini membuka peluang besar bagi kendaraan yang menawarkan efisiensi tinggi untuk mobilitas harian.

in1

>>> Meksiko vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit Grup A

Chief Operating Officer (COO) BAIC Indonesia, Dhani Yahya, menyatakan bahwa situasi ini menuntut kecermatan konsumen dalam memperhitungkan pengeluaran jangka panjang.

"Kalau dari kami tentu ini menjadi peluang. Kenapa kami melihatnya sebagai peluang, karena ada dua hal yang perlu diperhatikan," kata Dhani Yahya.

Menurut Dhani, kendaraan yang dibeli sering kali berfungsi sebagai mobil utama dalam rumah tangga.

Oleh karena itu, efisiensi konsumsi bahan bakar menjadi aspek krusial yang tidak dapat diabaikan oleh calon pembeli.

"Pertama mobil bisa menjadi kendaraan pertama dalam sebuah rumah tangga. Artinya, mobil ini dapat digunakan sebagai kendaraan harian.

Kalau bicara mobil harian, tentu harus punya efisiensi yang baik," ujarnya.

Manajemen BAIC Indonesia menegaskan bahwa mahalnya harga bahan bakar merupakan realitas pasar saat ini yang dipengaruhi situasi geopolitik global.

Konsumen disarankan bersiap karena pemulihan harga menuju normal diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga enam bulan setelah konflik mereda.

"Kami tentu tidak bersyukur dengan kondisi harga bahan bakar yang mahal, karena itu bukan sesuatu yang kami harapkan.

Namun, kami harus melihat bagaimana cara bertahan di situasi seperti ini. Konsumen juga perlu lebih cermat dalam memilih kendaraan," kata Dhani.

>>> Saham Perbankan Besar Alami Koreksi Tajam pada Pertengahan 2026

"Walaupun nanti ada perkembangan kondisi geopolitik atau situasi yang membaik, biasanya tetap butuh waktu sampai harga kembali normal.