Meski demikian, ia menegaskan terapi stem cell bukan berarti dapat menghentikan proses penuaan secara permanen.

"Proses aging tidak bisa dihentikan.

>>> Bank Raya Luncurkan Lelang Raya Poin untuk Dorong Transaksi Digital

Yang bisa dilakukan adalah membantu memperbaiki dan mengoptimalkan fungsi sel sehingga proses tersebut dapat diperlambat dan kualitas jaringan tetap terjaga lebih baik," tambahnya.

Manfaat di Bidang Ortopedi

Selain untuk kebutuhan estetika, teknologi regeneratif juga berkembang dalam bidang ortopedi untuk membantu pemulihan jaringan yang mengalami cedera maupun degenerasi.

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dr. Auliya Akbar, Sp. OT, Subsp.

PL mengatakan terapi stem cell memiliki potensi membantu regenerasi berbagai jaringan tubuh, termasuk tendon, ligamen, tulang rawan sendi, meniskus hingga diskus tulang belakang.

"Stem cell dan turunannya memiliki efek regenerasi dan menstimulasi pemulihan sel-sel tubuh yang sakit.

Aplikasinya luas, mulai dari tendon, tulang rawan sendi, ligamen, meniskus hingga diskus tulang belakang yang mengalami cedera," ujar dr. Auliya.

Keamanan dan Regulasi

Perkembangan terapi regeneratif tersebut juga diikuti dengan penguatan aspek keamanan dan regulasi.

Di Indonesia, pemanfaatan stem cell untuk layanan kesehatan telah diatur melalui standar pelayanan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dan hanya dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang memenuhi persyaratan tertentu.

Tasya menilai keamanan menjadi faktor utama yang harus diperhatikan masyarakat sebelum menjalani terapi regeneratif.

Menurut dia, kualitas donor, proses produksi, serta standar laboratorium menjadi aspek penting yang menentukan keamanan dan efektivitas terapi.

"Keamanan menjadi faktor yang paling penting.

>>> GAPEMBI Tolak Penghentian Program Makan Bergizi Gratis Saat Libur Sekolah

Karena itu sumber stem cell, proses produksinya, hingga sertifikasi laboratorium harus jelas sehingga kualitas dan keamanan terapi dapat terjamin," ujarnya.