Teknologi regeneratif semakin diminati masyarakat Indonesia seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas hidup dan menjalani proses penuaan secara sehat.

Dokter spesialis bedah plastik dan estetik Brawijaya Hospital dr. Tasya Anggrahita, Sp. BP-RE, Subsp.

>>> Inggris Tekuk Kroasia 4-2 di Piala Dunia 2026, Rashford Jadi Penentu

E. L mengatakan perkembangan terapi berbasis stem cell menjadi bagian dari era baru layanan kesehatan.

Terapi ini tidak hanya berfokus pada penanganan gejala, tetapi juga memperbaiki fungsi jaringan dan sel yang mengalami penurunan akibat proses penuaan.

"Kalau terapi seperti botox atau filler sifatnya sementara. Saat efeknya hilang, kondisi akan kembali seperti semula.

Stem cell berbeda karena bekerja untuk me-repair dan meregenerasi sel yang sudah mengalami penurunan fungsi akibat proses penuaan," ujar dr. Tasya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, tren kecantikan dan kesehatan saat ini telah bergeser dari sekadar memperbaiki tampilan luar menuju pendekatan yang lebih holistik melalui konsep hidup sehat dengan kualitas yang lebih baik hingga usia lanjut.

Ia menjelaskan salah satu manfaat terapi regeneratif yang paling banyak dicari pasien adalah peremajaan kulit secara alami.

Selain itu, terapi tersebut juga mulai dimanfaatkan untuk penanganan kebotakan, perbaikan kualitas kulit, hingga mendukung penyembuhan jaringan pada sejumlah kasus medis.

Tasya menyampaikan bahwa kemampuan stem cell untuk membantu regenerasi sel membuat terapi tersebut berbeda dengan sejumlah prosedur estetika konvensional yang umumnya hanya memberikan efek sementara.

"Stem cell itu bekerja untuk me-repair dan meregenerasi sel yang sudah hampir mati, sel yang sudah tua atau mengalami penurunan fungsi sehingga dapat kembali bekerja lebih optimal," ujarnya.