Tren pola makan sehat kini diramaikan oleh metode diet karnivora yang mewajibkan pelakunya hanya mengonsumsi produk hewani seperti daging, ikan, telur, dan beberapa produk susu.

Pola makan ini kian populer karena dipercaya efektif memangkas berat badan dan meningkatkan energi.

>>> Saham GOTO Stagnan di Rp 50 Meski Rencana Buyback Rp 3,5 Triliun

Dr. Ken Berry, seorang dokter di Tennessee, Amerika Serikat, mengklaim berhasil menurunkan berat badannya hingga 32 kilogram melalui diet ini.

Ia juga mengaku mampu mengatasi gangguan pradiabetes yang diidapnya setelah beralih dari pola makan rekomendasi American Diabetes Association ke diet karnivora sembilan tahun lalu.

"Saya hidup dengan makan daging sapi, mentega, bacon, dan telur," kata Berry.

Menurut Berry, penerapan diet ini bervariasi. Beberapa orang hanya mengonsumsi daging hewan ruminansia, sementara yang lain memadukan daging, telur, dan ikan.

Ia mengaku menerima banyak laporan tentang hilangnya lemak tubuh, kesembuhan perlemakan hati, serta penurunan inflamasi.

Kritik dan Risiko Kesehatan

Namun, langkah ekstrem ini memicu perdebatan. Sejumlah pakar kesehatan menilai diet karnivora berbahaya karena mengeliminasi serat dan nutrisi penting.

>>> Kemenpar Targetkan 19,1 Juta Wisman pada 2027

Walter Willett, profesor epidemiologi dan nutrisi di Harvard TH Chan School of Public Health, mengatakan, "Diet karnivora pada dasarnya terdengar seperti ide yang buruk."

Para ahli menyoroti minimnya bukti klinis tentang keamanan jangka panjang diet ini. Risiko yang disebutkan meliputi peningkatan kolesterol, batu ginjal, gangguan pencernaan, malnutrisi, hingga kanker usus besar.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan daging olahan sebagai karsinogenik dan daging merah sebagai probable karsinogenik.

Menanggapi kritik, Berry berargumen bahwa anggapan biji-bijian utuh dan jus buah selalu menyehatkan adalah kekeliruan. Ia menilai makanan tersebut hanya menjaga bertahan hidup, bukan mengoptimalkan kebugaran.

Ia juga menambahkan bahwa pati pada kacang-kacangan dan buncis berpotensi melonjakkan kadar insulin. Terkait risiko kanker dan penyakit jantung akibat daging merah, ia menilai kekhawatiran itu berlebihan.

>>> Kadin: Bioetanol Bisa Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Berry menekankan bahwa diet karnivora bisa terjangkau karena konsumen tidak perlu membeli potongan daging premium. Ia menyarankan memilih produk olahan yang hanya mengandung daging, garam, dan rempah alami.