Harga emas dunia kembali menguat pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026).

Berdasarkan data Tradingview yang dikutip dari Investor Daily, harga emas melonjak 0,92% ke posisi US$ 4.297,04 per ons troi.

>>> Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,75 Persen

Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya emas tertekan akibat sinyal kebijakan ketat bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Kesepakatan AS-Iran Redakan Ketegangan

Sentimen positif datang dari meredanya ketegangan geopolitik global.

Presiden AS Donald Trump menandatangani kesepakatan sementara dengan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Kesepakatan itu juga membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dan menghapus sanksi atas ekspor minyak mentah Iran.

Meski demikian, pembahasan lebih lanjut mengenai program nuklir dan insentif ekonomi masih akan berlanjut.

Hubungan bilateral yang membaik ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan pasokan energi.

>>> Perbanas: 88 Persen UMKM Informal Masih Andalkan Dana Pribadi

The Fed Masih Ketat

Namun, laju penguatan emas masih tertahan oleh sikap protektif The Fed terhadap inflasi domestik.

Sehari sebelumnya, harga emas sempat merosot hampir 2% setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%-3,75%.

Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan petunjuk soal langkah selanjutnya, namun menegaskan inflasi masih di atas target 2%.

Pernyataan itu memperkuat dugaan bahwa pelonggaran moneter belum akan terjadi dalam waktu dekat.

Suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena investor lebih memilih instrumen berimbal hasil seperti obligasi.

Di sisi lain, kombinasi risiko inflasi yang persisten dan dinamika geopolitik tetap menjadi pilar utama permintaan aset aman.

>>> Indonesia dan Tiongkok Jajaki Kerja Sama Pengobatan Tradisional

Pelaku pasar kini memantau kelanjutan diplomasi AS-Iran serta data ekonomi terbaru untuk membaca arah kebijakan The Fed.