Potensi penghematan energi masih terbuka lebar melalui elektrifikasi transportasi dan penerapan standar kendaraan niaga.

Hingga kini, sistem energi di Asia Tenggara masih bergantung pada bahan bakar fosil.

IEA mencatat lebih dari 70 persen tambahan kebutuhan energi dipenuhi oleh bahan bakar fosil, dengan batu bara sebagai sumber utama.

Pangsa batu bara dalam bauran energi naik dari 20 persen pada 2015 menjadi 30 persen pada 2024.

Di sisi lain, kapasitas energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin tumbuh sekitar 35 persen per tahun dan mencapai 120 GW pada 2024.

Untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan dan variabilitas pasokan, jaringan transmisi dan distribusi listrik perlu ditingkatkan dua kali lipat hingga 2050.

>>> Anwar Ibrahim dan Putin Bahas Kerja Sama Energi hingga Mata Uang Lokal

Investasi untuk jaringan dan penyimpanan energi juga perlu dinaikkan menjadi sekitar 50 miliar dolar AS pada 2050.