Pentagon secara resmi mengakui penggunaan chatbot AI Grok milik xAI dalam operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan Iran.

Pengakuan ini terungkap melalui dokumen pengadilan federal terkait gugatan pencemaran lingkungan.

in1

>>> Profil Rahadian M.Saputra Sosok Pria Berkebaya di Perayaan Tahun Baru Jawa di Mangkunegara Bersama Selebgram Paola Serena: Umur, Agama dan IG

Departemen Kehakiman AS menyebutkan bahwa Grok terintegrasi dalam sistem yang membantu pasukan Amerika Serikat menempatkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 target berbeda.

Proses tersebut diselesaikan hanya dalam waktu 96 jam selama operasi militer.

Langkah ini menjadi salah satu konfirmasi paling terbuka mengenai keterlibatan AI generatif dalam pertempuran modern.

Sebelumnya, peran AI dalam aktivitas militer kerap dibahas secara umum tanpa ada konfirmasi resmi terkait operasi serangan bersenjata.

Peran Grok dalam Operasi Militer

Pejabat Chief Digital and Artificial Intelligence Office Pentagon, Cameron Stanley, menyatakan bahwa Grok dinilai mampu mendukung aplikasi keamanan nasional Amerika Serikat.

Model AI ini dinyatakan memenuhi syarat untuk operasi penting di lingkungan dengan tingkat kerahasiaan tinggi.

Pentagon menjelaskan bahwa Grok tidak mengendalikan senjata atau menentukan target secara langsung.

AI ini bekerja melalui sistem analisis intelijen untuk mengidentifikasi titik krusial berdasarkan data berbagai sumber, sementara keputusan akhir tetap di tangan analis manusia.

Teknologi milik xAI tersebut terhubung dengan Maven Smart System.

>>> Pemerintah Siapkan Rp14 Triliun untuk Tunjangan Guru Non-ASN pada 2027

Platform berbasis AI milik badan intelijen geospasial Amerika Serikat ini berfungsi mempercepat pemrosesan data dalam jumlah besar guna membantu militer mengevaluasi sasaran potensial.

Keterlibatan Terungkap Lewat Gugatan Hukum

Keterlibatan Grok justru terungkap melalui gugatan hukum NAACP terhadap xAI dan anak usahanya, MZX Tech, terkait dugaan pelanggaran Clean Air Act.