Pentagon secara blak-blakan mengakui bahwa kecerdasan buatan milik Elon Musk, Grok AI, digunakan dalam operasi militer yang menargetkan Iran.

Pengakuan ini disampaikan oleh Cameron Stanley, Kepala Bidang Digital dan AI di Departemen Pertahanan Pentagon.

in1

>>> DFSK Resmi Debutkan E5 PLUS Setir Kanan, Kapan ke Indonesia?

Menurut Stanley, Grok AI memungkinkan pasukan AS meluncurkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 sasaran berbeda dalam waktu 96 jam selama Operasi Epic Fury.

Operasi Epic Fury berlangsung dari 28 Februari hingga Mei 2026.

Salah satu targetnya adalah Sekolah Dasar Perempuan Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran, yang menewaskan ratusan pelajar dan staf.

Stanley menyebut Grok AI sebagai salah satu dari empat model AI yang mampu mendukung aplikasi keamanan nasional, bersama Claude, Gemini, dan ChatGPT.

>>> Chery J6 EREV Terpantau di Jalanan, Siap Hadir di Indonesia?

Ia menambahkan bahwa model Grok Gov menawarkan fitur unik yang tidak ditemukan pada model AI terdepan lainnya, meski enggan merinci lebih lanjut.

Pengakuan ini menjadi yang pertama kalinya pejabat pemerintah secara terbuka mengakui penggunaan AI, khususnya Grok AI, dalam serangan udara ke Iran.

Pernyataan Stanley juga bertujuan mempertahankan pusat data xAI di dekat Memphis yang dituduh mencemari udara.

>>> Sandisk Luncurkan Koleksi Resmi Piala Dunia 2026, Termasuk Flashdisk Berbentuk Peluit

Pusat data tersebut dirancang untuk mendukung perencanaan militer, pembuatan laporan, analisis prediktif, hingga manajemen jalur pasokan medis.