Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) membutuhkan anggaran tambahan sebesar US$ 80 miliar untuk membiayai perang Iran serta kebutuhan belanja lainnya.

Kebutuhan dana tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Pertahanan AS Stephen Feinberg kepada para anggota parlemen melalui serangkaian pembicaraan telepon.

in1

>>> Christian Pulisic Cedera Betis, Absen Lawan Australia?

Pemerintah AS kini sedang menyiapkan proposal permintaan dana tambahan yang lebih luas untuk diajukan kepada Kongres dalam beberapa hari mendatang.

Selain mencakup kebutuhan militer Pentagon, proposal tersebut juga akan dialokasikan untuk berbagai prioritas nonpertahanan.

Dana tersebut rencananya akan disalurkan untuk bantuan sektor pertanian serta penanganan bencana alam.

Gedung Putih dan Pentagon belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan ini.

Beban Fiskal Akibat Konflik Iran

Konflik di Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026 oleh Presiden Donald Trump bersama Israel telah menimbulkan beban fiskal yang sangat besar bagi pemerintah AS.

Pada April lalu, seorang pejabat militer mengungkapkan bahwa estimasi awal biaya konflik tersebut telah mencapai sekitar US$ 25 miliar.

>>> Bengkel Kafka Ungkap Komponen Mobil yang Rawan Rusak di Kilometer 100.000

Namun, total biaya yang harus ditanggung masih menjadi perdebatan sengit di Kongres AS.

Sebelumnya, usulan awal dari pemerintah untuk memperoleh tambahan pendanaan sebesar US$ 200 miliar telah mendapatkan penolakan keras dari sejumlah anggota parlemen.

Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought dalam sidang Komite Anggaran DPR AS mengaku belum memiliki estimasi pasti mengenai total biaya perang.

Keterangan tersebut disampaikan saat ia membela usulan Presiden Trump terkait anggaran militer tahunan yang mencapai US$ 1,5 triliun.

Rencana anggaran besar tersebut mencerminkan prioritas utama dari Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu yang akan digelar pada November mendatang.

>>> Menteri Rosan Dorong Efisiensi Perbankan Jaga Penyaluran Kredit

Partai tersebut berupaya keras mempertahankan mayoritas di Kongres di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap kenaikan biaya hidup, tingginya harga energi, serta beban keuangan akibat perang.