Di sektor bangunan, konsumsi energi secara akumulatif mencapai 4,5 EJ pada 2024.

Selain urbanisasi, perluasan akses listrik yang kini mencapai 97 persen turut mengubah pola konsumsi energi rumah tangga.

Permintaan Listrik Tumbuh Dua Kali Lipat

Transformasi energi berskala besar terjadi di Asia Tenggara, di mana listrik memegang peran krusial.

Permintaan listrik di wilayah ini tumbuh dua kali lebih cepat dibandingkan kebutuhan energi total.

>>> Kemenhut: Papua Pegunungan Berperan Strategis Kendalikan Emisi GRK RI

Dalam sepuluh tahun ke depan, pertumbuhan permintaan listrik di Asia Tenggara diperkirakan menyamai total produksi kelistrikan Jepang saat ini.

IEA memproyeksikan listrik akan menyumbang hampir seperempat dari konsumsi energi final.

Selain kebutuhan domestik, pusat data muncul sebagai sumber pertumbuhan baru yang membutuhkan investasi besar pada jaringan transmisi.

Di sektor industri, tingkat elektrifikasi di kawasan ini sudah setara dengan Uni Eropa.

Peralihan ke kendaraan listrik juga menunjukkan tren positif, dengan penjualan di Asia Tenggara melesat lebih dari dua kali lipat pada 2025 hingga sekitar setengah juta unit, atau 20 persen dari total penjualan otomotif.

Di Vietnam, pasar mobil listrik naik dua kali lipat sepanjang 2024-2025 dengan penjualan mendekati 180.000 unit.

Meski demikian, sektor pendinginan ruang tetap menjadi faktor dominan yang mengarahkan laju permintaan listrik.

Gelombang Panas dan Ketergantungan Bahan Bakar Fosil

Meningkatnya pemakaian AC berkaitan erat dengan semakin seringnya gelombang panas melanda Asia Tenggara.

Untuk meredam laju konsumsi energi, sejumlah pemerintah mulai memperketat standar efisiensi energi untuk perangkat pendingin.

Langkah ini berhasil mendongkrak efisiensi rata-rata AC rumah tangga sekitar 40 persen sejak 2015.